Ketika Hari Ini Aku Sangat Rindu...

Ya Allah... Sungguh, hari ini aku sangat rindu untuk bisa kembali ke Tanah Suci-MU
Sungguh, hari ini aku rindu untuk thawaf di Ka'bah-MU seraya mengucap "Yaa Aziz..Yaa Ghaffar..Rabbanaa atinaa fiddunnya hasannah wafil akhirati hassanah wakinaa adzabannaar.."
Sungguh hari ini aku rindu untuk sa'i dan mengakhirinya dengan tahalul Sungguh, hari ini aku menangis karena takut akan marah-MU Sungguh, aku selalu rindu untuk melafazkan... "Labaik Allahumma labaiik..Labaikalla syariikalaa kallaa baiik....innal hamda wal ni'mata lakawal mulk, laa syariikalaak"..seperti Juli kemarin.. Dada ini sesak karena rindu... Rindu sekali...
Selengkapnya.....

Salaam'alayka Yaa Rasulullah...

Ya Rasulullah, sungguh kami mencintaimu. Semoga kami bisa menjadi sebak-baik umatmu... dan mendapat syafa’at darimu kelak. Hari itu pada haji Wada' sebuah ayat turun, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu." Para sahabat bergembira, mereka bersorak, "Agama kita telah sempurna, agama kita telah sempurna". Kegembiraan yang memuncaki 23 tahun perjuangan dengan segenap suka dan duka. Di tengah kerumunan manusia pada hari Haji itu, seorang sahabat mulia justri bersedih. Abu Bakar As Siddiq, perasaannya yang halus, dan dengan segenap keistimewaan yang ia miliki, ia menangis. Ia memahami dibalik kesempurnaan pasti ada ada kesudahan. Ia menyadari, tidak lama lagi Sang Rasul tercinta akan meninggal dunia, meninggalkan sahabat, kembali ke haribaan Allah SWT. Tangis sedih Abu Bakar didengar para sahabat. Setelah Abu Bakar menjelaskan mengapa ia menangis, para sahabatpun ikut menangis. Betapa menyedihkan, Sang kekasih tercinta, bertahun-tahun hidup dan berjuang bersama, segenap kesulitan dan kemudahan dilalui dalam persaudaraan yang tak ada duanya, tidak lama lagi akan tiada, meninggalkan dunia yang fana. Mengetahui para sahabat menangis, Rasulullah SAW bergegas mendatangi mereka. Di depan para sahabat Rasulullah SAW berkata, "Semua yang dikatakan Abu Bakar ra adalah benar dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat." Mendengar perkataan Sang Rasul, Abu Bakar kembali menangis hingga kemudian tak sadarkan diri, tubuh Ali bin Abi Thalib bergetar, dan sahabat lainnya menangis dengan sekuat yang mereka bisa. Beberapa masa kemudian Rasulullah SAW sakit, kota Madinah berada dalam suasana kesedihan. Di suatu Subuh, setelah adzan, Bilal bin Rabah bergegas menuju kediaman Rasulullah, di sana Fatimah menyambut Bilal dan berkata, "Jangan kau ganggu Rasulullah, kondisinya sedang payah." Bilal kembali ke masjid, di sana masih tak ada yang sangup menggantikan sang Rasul menjadi imam shalat Subuh. Semua yang hadir di masjid diselimuti kesedihan. Kali kedua, Bilal kembali mendatangi kediaman Nabi dan Fatimah kembali mencegah Bilal bertemu dengan Nabi karena kondisi Nabi sedang buruk. Bilal menjawab, "Subuh hampir tiada, tak ada yang dapat memimpin shalat." Dari dalam kamar Rasulullah SAW mendengar percakapan tersebut dan memerintahkan ABu Bakar menjadi imam shalat Subuh. "Abu Bakar terus menangis", seru Bilal. RAsulullah SAW pun bergegas ke masjid dipapah oleh para sahabat. Masjid penuh sesak oleh kaum Muhajirind beserta Anshar. Ada sosok yang dicinta di sana, kekasih yang baru saja terbangun dari sakitnya yang membuat semua sahabat tak terlewatkan kesempatan ini. Semua mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah SWT. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Rasulullah SAW bertanya, "Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan panjang lagi. Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil qishas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik". Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening saripati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al Mustafa. Melihat semua terdiam, Nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah Ukasyah Ibnu Muhsin. Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan. Dan aku menghampirimu agar dapat menciummu, wahai kekasih Allah, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku", ucap Ukasyah. Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih Allah. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul Mulia. Dengan cepat cambuk berpindah tangan kepada Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah. Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak tadi, dialah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar bin Khattab. Gemetar mereka berkata, "Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau inginkan, qishaslah kami jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah." "Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi memberi perintah secara tegas. Kedua sahabat itu pun lunglai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok Ukasyah dengan pandangan memohon. Ukasyah tidak bergeming. Melihat Umar dan Abu Bakar telah duduk kembali, Ali bin Abi Thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan Ukasyah dengan berani. Hai Hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qishas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku. "Allah SWT sesungguhnya tahu kedudukan dan niatmu ya Ali, duduklah kembali", ucap Nabi. "Hai Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya menqishas Rasul juga?" Kini yang tampil di depan Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi menegur mereka, "Wahai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah". Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi Ukasyah mengambil qishas. Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qishas, inilah ragaku, Nabi melangkah maju mendekatinya. "Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kain pun yang menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Rasulullah langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih. Melihat tegap badan manusia yang maksum itu, Ukasyah langsung menanggalkan cambuknya dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau dia tumpahkan saat itu. UKasyah menangis gembira, Ukasyah bertasbih memuji Allah, Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati menqishas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka." Dengan tersenyum, Nabi berkata,"Ketahuilah wahai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. Wahai Ukasyah, berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Medinah. Salaam’alayka Yaa Rasulullah...Salaam’alayka Yaa Nabiyullah...Salaam’alayka Yaa Muhammad! ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - Duhai sahabat,Tidakkah engkau tergetar dan menangis membayangkan Rasul Allah ada didepan kita? Betapa suci dan mulianya manusia ciptaan Allah SWT yang bernama Muhammad SAW itu? Subhanallah! Apa yang tengah kau pikirkan sekarang? Sejauh apa pengorbanan yang telah engkau berikan selama ini untuk membuktikan kecintaanmu kepada agamamu, Rasulmu dan Tuhanmu? Pantaskah diri kita menemani beliau kelak disurga? Waktu jangan terbuang sia-sia, persiapkan dirimu mulai sekarang sebelum segalanya terlambat.... Subhanallah. ..Allahu Akbar...Allahu Akbar....!! (Mutiara Amaly vol.31)by :Kartika Dewi
Selengkapnya.....

Antara Ada dan Tiada

Entahlah, apakah harus merasa bahagia atau merasa bersalah. apakah boleh tersenyum atau seharusnya menangis.
Jalannya takkan pernah berujung. Bahkan lebih terjal dan curam dari perkiraan pertama.
Harapannya sangat tipis, lebih tipis dari kertas. Memandang cermin sekarang sudah tak mampu. Karena hasilnya sama. Abu – abu.
Hanya tinggal menunggu nasib. Akan jadi hitam atau jadi putih sekalian.
Disekelilingnya selalu hanya ada pertanyaan, prasangka, harapan, terabaikan, tangisan…selebihnya hanya antara akan ditinggalkan atau disatukan. Tapi tentu saja..semuanya itu sungguh indah. Lebih indah dari dugaan sebelumnya. Walaupun harus menderita lebih menderita dari dugaan sebelumnya…
Selengkapnya.....

Shalat Adalah Perjanjian

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d. (Fatwa - fatwa Penting Tentang Shalat) Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir akbar, tetapi jika ia mengingkari kewajiban shalat maka ia kafir hukumnya menurut semua Ulama. Hal ini berdasarkan Sabda Rasullullah SAW : “Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah Shalat dan puncaknya adalah Jihad Fi Sabilillah” (H.R.Imam Ahmad,At Tirmidzi & Ibnu Majah Dan Sabda Rasullullah SAW : ”Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat” (H.R.Muslim) Kemudian Sabda Rasulullah SAW berikutnya : “Perjanjian antara kita dan mereka (orang – orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkan shalat sesungguhnya ia telah kafir” (H.R.Imam Ahmad) Sebab orang yang mengingkari kewajiban shalat adalah mendustakan Allah, Rasul-Nya dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama. Karenanya kekafirannya lebih besar daripada orang yang meninggalkannya secara tahaawun (lalai). Terhadap kedua bentuk tersebut maka wajib hukumnya bagi orang yang meninggalkan shalat untuk bertaubat. Seperti dalam Firman Allah SWT : “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat – ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (QS. At-Taubat : 11) Sedangkan dalam Sabda Rasulullah SAW :”Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat” (Shahih Muslim) Kemudian Sabda Baginda : ”Perjanjian antara kita dan mereka (orang – orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya sesungguhnya ia telah kafir”. (Hadits Buraidah r.a dlm kitab As Sunan). Jika sudah jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, maka konsekwensinya adalah akan diberlakukan padanya hukum orang – orang yang murtad. Tidak ada nash yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu mukmin atau ia akan masuk surga atau selamat dari api neraka dan yang semacamnya, sehingga menuntut kita untuk mentakwilkan kekafiran/kekufuran pada orang yang meninggalkan shalat tersebut dengan kufru ni’mah (mengkufuri ni’mat) atau kufrun duuna kufrin ( kufur yang tidak mengkufurkan), yaitu diantaranya : 1. Dia tidak sah untuk dinikahkan. Seperti dalam Firman Allah SWT tentang perempuan – perempuan yang berhijrah : “Maka jika telah mengetahui bahwa mereka benar – benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami – suami) orang – orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang – orang kafir itu dan orang – orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” (QS. Al-Mumtahanah : 10). 2. Apabila ia meninggalkan shalat setelah akad nikah, maka nikahnya batal dengan sendirinya dan tidak halal baginya isteri berdasarkan ayat yang disebutkan diatas. 3. Seseorang yang meninggalkan shalat ini apabila menyembelih ternak maka sembelihannya tidak boleh dimakan karena haram. 4. Tidak halal baginya untuk masuk Kota Mekkah atau batas – batas tanah harramnya, berdasarkan Firman Allah SWT : “Hai orang – orang yang beriman, sesungguhnya orang – orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Harram sesudah tahun ini “ (QS.At-Taubah : 28) 5. Apabila salah seorang keluarga dekat/kerabatnya meninggal dunia maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Berdasarkan Sabda Rasullullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Usamah r.a : “Seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi harta orang musllim” . Kemudian Sabda Beliau : ” Berikanlah warisan kepada orang yang berhak menerimanya, jika masih ada sisanya maka ia untuk lelaki yang paling berhak (dari keluarganya)”. 6. Apabila ia meninggal dunia maka ia tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalati dan tidak dikubur bersama kaum muslimin. 7. Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama Fir’aun, Haman, Qarun dan Ubay bin Khalaf para pemimpin kekufuran – wal ‘iyadhu billah. Dan dia tidak akan masuk surga serta tidak halal bagi seorang pun dari keluarganya untuk mendoakan baginya Rahmat dan Maghfirah (pengampunan) karena dia telah kafir dan tidak berhak atas hal itu. Seperti dalam Firman Allah SWT : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang – orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang – orang musyrik, walaupun orang – orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang – orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam” (QS.At-Taubah : 113) Dan seperti dalam Firman Allah SWT : “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” (QS.Thaahaa : 74). Dan Firman-NYA : “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (QS.An-Naazi’aat : 37-39). Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-NYA untuk kita semua dalam urusan kebaikan dan keberuntungan, dan menjadikan hari – hari kita dalam kebahagiaan dan ketentraman. Hadanallahu wa iyyakum ‘ajmain. Wallahu ‘alam bishshowab. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan, ana masih dalam proses belajar dalam menulis. Mohon kritik dan sarannya ya...:) Resume : ISLAMIC PROPAGATION OFFICE IN RABWAH Riyadh, Saudi Arabia www.islam house.org
Selengkapnya.....

School of Life - Hatiku Sedang Keruh....

November 12, 2006. Office 16.10 WIB Aku hampir membatalkan niatku pagi ini untuk menghadiri pertemuan School of Life – nya Abang. Entahlah, tiba – tiba kayak nggak sreg aja. Artinya di pagi itu banyak acara bentrok. Acara Ibu , jadwal Halal bi halal dan Liqo. Semuanya sama di pagi hari. Di jam yang hampir sama. Tapi karena aku udah janji sama Abang dari seminggu yang lalu, jadi tekadku akhirnya ‘aku harus datang’, walupun hatiku juga sedang keruh. Acara itu sebenernya bagus banget, selain bisa mengenal orang baru dengan bermacam – macam karakter, juga bisa sharing dengan berbagi pengalaman hidup dalam waktu yang singkat. Sangat singkat hanya 3 jam. Waktunya kurang banget, karena yang hadir itu sekitar 10 orang, walaupun kayaknya yang ditargetkan manajemen SOL sekitar 20 orang. Harusnya hari itu aku ‘happy’ dan bisa terbuka serta sharing dengan orang – orang baru. Tapi sesuai suasana hatiku yang lagi gak karuan saat itu, aku jadi amat sangat pendiam. Mandek, kaku, sedikit tersenyum dan menjadi pendengar sejati. Pada saat ta’aruf (perkenalan) kepada teman – teman lain pun aku hanya menyebutkan,”nama saya koen aja, dipanggilnya koen”. Sementara yang lain memperkenalkan diri secara lengkap bahkan menyebutkan motivasinya mengikuti acara tersebut. Hmmmm…. Aku hanya bias menarik nafas panjang. Feelingku hari ini aku ga akan dapet apa – apa karena aku menutup diriku untuk orang – orang yang ada disekitarku saat itu. Deep inside aku ngerasa gak enak sama Abang, selama acara berlangsung aku bener – bener ga bisa mengeluarkan satu patah kata pun untuk aku ungkapkan ke permukaan. Semuanya terendam dalam – dalam bersama suasana hatiku yang bener – bener lagi keruh.
Abang mulai membuka acara dengan menstimulasi peserta dengan meremas kertas sampai menjadi bola kertas yang juga Ia bagikan kepada seluruh peserta. Abang meminta kepada seluruh peserta untuk mengikutinya. Sebenernya aku udah mulai tersindir. Abang seperti tau kalo aku sedang ga nyaman dengan keadaan itu dan seperti membaca pikiranku bahwa aku sedang membawa hati yang keruh itu ke dalam acara SOL. Kata Abang ,” mungkinkah kita menulis sesuatu pd kertas yang kita remas menjadi bulat ini?” jawabannya TIDAK. Terus Abang membuka kertas itu perlahan dan merapikannya kembali seperti sedia kala,Peserta mengikuti. Lalu kata Abang,”sekarang, bisakah kita menulis uneg – uneg kita pada kertas yang sudah kita luruskan ini?” jawabannya BISA. Jadi kata Abang lagi ,”Open Your Mind seperti kertas ini”. Aku tertunduk. Maaf Bang! Kemudian Abang berbicara, peserta lain pun masing – masing bicara. Entahlah, pikiranku sedang berkeliaran kemana – mana, ruh-ku sedang tidak di lingkaran itu. Tapi aku mendengarkan dengan sangat jelas dan khusyuk sharing dari masing – masing peserta. Malah Ibu Dani yang ada disebelahku (yang menurutku paling aktif bicara) sharingnya masih aku simpan dengan baik di memori otakku yaitu tentang ‘dahsyat-nya Surrah Al-Fatihah’. Katanya Surrah Al-Fatihah selalu Ia panjatkan sebagai doanya pada setiap shalat 5 waktu untuk ketiga anak – anaknya. Satu anak satu Surrah, dan Ia yakin Surrah tersebut berkhasiat untuk mendoakan ketiga anak – anaknya supaya Allah berkenan menjadikan ketiga anaknya menjadi anak yang shalih. Amiin…Allahumma Amiin. Alhamdullillah, itu adalah pelajaran kedua yang paling baik, yang saat itu aku simpan setelah meremas kertas-nya Abang.
Hatiku masih tetap keruh, hatiku terus berdzikir agar Allah melenyapkan suasana hatiku yang sedang keruh itu. Tapi tetap tidak bisa. Aku tetap bungkam dan hanya ‘plarak – plirik’ aja. Berkali – kali Abang seperti menyindirku seperti ,”kayaknya masih ada yang belum ngomong lho”. Aku sekali lagi cuma bisa tertunduk. Maaf Bang! But anyway, acara Abang bagus. Banget. Hopefully aku masih dikasih kesempatan oleh Abang untuk menerima undangannya mengikuti SOL berikutnya, mungkin aku punya cara lain supaya “asli”nya aku keluar kali ya? Orang cewawa’an gini bisa jadi pendiem ? aku aneh juga jadinya, sampe sakit kepala deh! Hatiku sedang keruh… Karena ada seseorang yang telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan, dan kata – katanya itu menohok hatiku bahkan melukai perasaanku. Aku berharap orang itu hanya khilaf, tapi sampe sekarang, sampe aku mengetik dan mempublish tulisan ini, hatiku masih keruh terhadapnya. Akibat hatiku yang keruh, aku jadi mengeruhkan hati orang lain, akibatnya orang lain jadi merasa tersinggung. Begitupun kepada buah hatiku, karena hatiku yang sedang keruh, anaku yang sedang mencari perhatianku malah aku cubit sampe menangis keras,” mamiiii….atiiiiit….” (mamiii…sakiiiiit). Aku segera memeluknya, menciumnya dan meminta maaf kepadanya. Aku jadi ikutan menangis karena perbuatanku tersebut. Aku benar – benar menyesal dan berulang kali beristighfar, tidak seharusnya itu aku lakukan. Aku sungguh menyesal. (aku harap orang yang menyakiti hatiku malam itu lewat telpon genggam membacanya, supaya Ia tau….hatiku masih keruh!) Robbana Dzholamnaa anfusanaa, fairlamtaghfirlanaa lanna kunnanaa minnal khasiyriin...
Selengkapnya.....

ALLAH Menjawab Bacaan Al-Fatihah

Bismillahirrohmanirrohim Question : Benarkah ada hadits Qudsi yang menyatakan bahwa Allah SWT menjawab bacaan Al-Fatihah sesorang dalam shalatnya, dan benarkah hadits tersebut menjadi dasar bahwa Basmallah tidak termasuk salah satu ayatnya ? Answer : Hadits Qudsi yang dimaksud adalah sbb : 1. Allah Ta’ala berfirman : “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa – apa yang dia minta. Maka apabila ia mengucapkan (Alhamdullillahi Rabbil ‘Alamiin) – Allah Ta’ala berfirman : Hamba-Ku telah memuji-Ku. Dan apabila ia mengucapkan (Arrahmanirrahiim) – Allah Ta’ala berfirman : Hamba-Ku telah menyannjung-Ku. Dan apabila ia mengucapkan (Maliki Yaumiddiin) – Ia berfiman : Hamba-Ku telah memuliakan-Ku, dan ia berfirman di kali lain : Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Maka apabila ia mengucapkan (Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nastai’en) – Ia berfirman : Ini adalah antara Aku dan antara hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Maka apabila ia mengucapkan (Ihdinash-shirrathal Mustaqiim Shirathalladzina An’amta ‘Alaihim Ghairil Maghdubi ‘Alaihim Waladhdhalliin) – Ia berfiman : Ini adalah untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta” (muslim). Disamping diriwayatkan oleh Muslim, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam kitab Tafsirul Qur’an ‘An Rasullillah SAW Bab Wamin Surati Fathihatil Kitab No:2877, Nasa’I dalam Kitab Al-Fathihah Bab Tarku Qira-ati Bismillahirrahmanirrahim Fi Fatihatil Kitab No:900, Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shalah Bab Man Tarakal Qira-ata Fi Shalatihi Bifatihatil Kitabi No:699,Ibnu Majah dalam Kitab Al-Adab Bab Tsawabul Qur’an No:3774 dan Imam Malik dalam Kitab An-Nida’ Lishshalati Bab Al-Qira-ah Khalfal Imami Fima La Yujharu Fihi Bilqira-ati No:174. Hadits Qudsi di atas jelas bahwa setiap kali seseorang membaca Al-Fatihah didalam shalatnya maka Allah akan menjawabnya. 2. Hadits Qudsi inilah yang menjadi dasar bahwa Basmallah tidak termasuk salah satu ayat dari Surrah Al-Fatihah. Karena Basmallah tidak termasuk dalam rincian atau tidak disebut dalam hadits tersebut. Memang ada hadits yang menunjukkan bahwa Basmallah termasuk bagian dari Surrah Al-Fatihah, tetapi sepanjang ini hadits tersbut belum dapat dipakai sebagai dasar, sebab status marfu’ dan mauqufnya masih diperselisihkan (lihat Ash-Shahihah No:1183 dan At-Talkhish I:232) Hadits dimaksud adalah sbb : Dari Abu Hurairah ia berkata : “ Telah bersabda Rasullullah SAW : Apabila kamu membaca Al-Fatihah, maka bacalah Bismillahirrohmanirrahiim, karena ia adalah salah satu dari ayat – ayatnya ” (daraquthnie) Karena hadits ini statusnya belum dapat dipastikan, maka tentu lebih selamat kita kembali kepada hadits yang menurut kaca mata ilmu sudah pasti shahihnya, yaitu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim diatas. Kesimpulan : Ada hadits Qudsi sebagaimana yang ditanyakan, dan sekaligus hadits tersebut menjadi dasar bahwa Basmallah tidak termasuk salah satu ayat dari Surrah Al-Fatihah. Note : Maaf bagi yang kurang berkenan, atau ada kesalahan..mohon koreksinya ya…?! Jazzakumullah Khairan Katsiro. Selengkapnya.....

Arti Sebuah Senyum...

12.30 wib. Kelapa Dua – Pos Pengumben. Toko Kue Bengawan Solo. Siang ini aku mampir ke toko kue langgananku. Tempatnya deket banget sama rumah. Aku kesana karena harus beli untuk konsumsi rapat bosku siang ini. Biasa deh tugas sekretaris. Terus aku parkir di halaman toko kue yang keliatannya kok udah mulai berubah tempat. Agak ragu – ragu juga aku masuk ke dalamnya, tapi nama toko kuenya kok sama ya? Sebenernya aku males banget masuk dan beli kue di toko itu, tau ga kenapa? Karena hampir semua pelayan di toko kue itu ‘bermuka masam’ alias pelit senyum. Ugghh..nge-betein banget deh. Kalo bukan karena letaknya deket rumah dan sekalian lewat kalo mau ke kantor, iihhh…ogah banget deh mampir. Anehnya toko itu selalu rame pembeli. Yah pastinya alasannya sama denganku. karena deket rumah, harga kue yang murah dan enak. Tapi nih…tapi…., siang ini aku dikejutkan sesuatu yang sebelumnya gak aku bayangin sama sekali. Toko yang sekarang bertambah luas dan jadi banyak macem dagangannya termasuk mie ayam, soto khas lamongan, dan makanan khas daerah Jawa lainnya, eee.. ada yang berubah lho…! Pelayan tokonya sekarang full senyum. Alhamdullillah. Baru kali ini aku di senyumin sama mbak Lastri. Hmm…senyumnya manis juga. Jadi seneng ngeliatnya. Eeh..mbak Rini dan mba Sri juga ikutan senyum dan mengangguk kecil kepadaku. Aku jadi agak takjub juga. Wah ada apa nih? Kenapa semua jadi berubah begini? Apa karena hikmah Ramadhan kemarin? Atau peringatan dari manajemen toko yang baru bahwa melayani pelanggan harus dengan senyum? Wallahu’alam. Yang jelas, setelah meninggalkan toko itu, sambil nyetir ke arah kantor aku juga jadi ikutan senyum – senyum sendiri. Dan masih terbayang jelas sampe sekarang senyum manisnya mbak Lastri yang biasa melipat mukanya jadi 12, huehehee. Ternyata arti sebuah senyum itu bisa menyenangkan orang lain ya? Membuat hati orang menjadi senang dan berjanji akan datang kembali ke toko itu. Selain itu SENYUM itu berarti BERAMAL juga untuk orang kan?. Tuh kan..dapet pelajaran lagi hari ini? Alhamdullillahirobbil ‘alamiin.. “ Dan orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal – amal shaleh, sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat – tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai – sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik – baik pembalasan bagi orang – orang yang beramal (58) ; (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya (59) “ (QS. Al Ankabuut : 58 – 59) Selengkapnya.....

Resiko Sebuah Kejujuran Adalah Ditinggalkan dan Diabaikan...

Aku selalu takut akan kejujuran. Takut mengatakan keadaan yang sebenarnya. Itu udah berlangsung sejak aku masih kecil. Karena orang di sekelilingku selalu marah kalo aku jujur pada apa yang telah aku perbuat. termasuk Ibu. Aku tau ini adalah kesalahan. Tapi tunggu ! ini yang harus aku hadapi. Aku sedang bermetamorfosis dalam hidupku. Aku harap semua orang begitu. Harapanku, aku ingin mempunyai bentuk dan sayap yang cantik dan indah.
Semua orang punya masa lalu. Begitu pun aku. Dan aku termasuk dari ratusan anak Jakarta lain yang bergaya hidup metropolitan. Sekarang, Alhamdullillah aku jauh dari itu dan benci jika mengingatnya. Tapi yang gak aku benci ada pada bagian ketika dalam pencarian jati diriku aku pernah bergelut dengan sekelompok anak wayang (Alhamdullillah, adik–adik Teater ku masih menghargaiku sebagai kakaknya) dan ketika aku bergelut dengan sekelompok anak Pecinta Alam di kampusku (Alhamdullillah, sampe sekarang masih sebagai anggota tetap). Waktu SMA dulu aku suka sekali beracting, bisa memainkan peran sebagai orang lain dan melebur sebagai orang lain lalu kembali menjadi diriku. Aku bilang aku suka "dunia" itu pada Ibuku. Tapi Ibuku tidak. Tapi aku kan harus latihan setiap saat. Karena Ibu ga suka, jadi kau gak pernah bisa jujur kalo aku sangat menikmatinya. Walaupun akhirnya Ibuku mendukungnya dan sempet sukses. Suksesnya gimana? Itu rahasia, pokoknya sukses dengan hasil baik dan gak sia – sia. Alhamdullillah. Waktu kuliah, perhatian keinginanku beralih pada kecintaanku untuk wall climbing. Dan aku sangat menyukainya. Seminggu latihan 3 kali. Malah sampe nyolong waktunya kuliah. Trus latihan rafling dari lantai 8 alias aling atasnya gedung. Wiiiii..sekarang mah udah gak berani lagi. Jujur saja, aku bisa pernah jujur untuk mengatakan kepada keluargaku dulu, bahwa aku mencintai dunia itu. Mencintai ? hmm….dalem kayaknya tuh! Memang. Begitupun ketika aku mulai sesak menahan rasa tentang ‘cinta’ dan ‘sayang’. Aku harap anda sependapat denganku, bahwa kedua rasa itu manusiawi. Dan aku hanya seorang manusia yang dhoif. Sama kayak anda juga. Butuh cinta. Butuh sayang. Jujur aja, aku ga pernah berani mengungkapkan kedua rasa itu, selain karena kodratnya sebagai wanita, image-nya “DILARANG” agresif dan dilarang bilang cinta. Tapi itu dulu. Sejak kuliah aku merasa itu hak-ku dan resiko-ku. Bukan berarti mengungkapkan cinta dan saying hanya kepada manusia dan kepada setiap orang yang aku suka lho!. Lebih kepada pilihan – pilihan hidup. Dan resikonya? Ya tanggung sendiri. Kalo pada akhirnya SEKARANG, aku ga berani lagi untuk MENGUNGKAPKAN ‘cinta’ dan ‘sayang’ pada orang dan pilihan hidup. Itu lebih kepada pelajaran – pelajaran hidup beberapa tahun yang lalu, bahkan beberapa hari yang lalu. Urusan cinta ke orang dan pilihan hidup adalah “CLOSED” buatku. Karena apa? Karena… tidak selalu mengungkapkan “kejujuran” itu bisa memberikan hasil yang baik. Buat diri kita sendiri, buat yang menerima kejujuran dan lingkungan yang menerima kejujuran. Termasuk ketika dulu pilihan mantan suamiku untuk menceraikanku dan mencintai perempuan lain ketika aku baru saja melahirkan 4 bulan. Karena desakan cinta itu, dia harus jujur untuk bisa meninggalkanku dan anaku. Waktu itu jelas – jelas aku gak bisa terima. Harus berkompromi dengan hati, kepedihan, ketakutan, keterpurukan dan waktu. Sekarang aku bisa terima dan dengan JUJUR kukatakan aku bersedia BERCERAI. Itu salah satu kasus aja. Dan mungkin aja ketika kita mengungkapkan kejujuran bisa diterima dengan baik, seperti ketika aku JUJUR pada semua orang di sekelilingku bahwa aku nyaman dengan keadaanku setelah “hijrah” seperti ini . hingga pada suatu hari ada seseorang yang mengatakan , “ bahwa cinta abadi itu letaknya bukan ada pada cinta kepada manusia yang sifatnya hanya CINTA SEMU, tetapi CINTA ABADI hanyalah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla saja”. Dan itu murni benar, 100% correct. Jadi entahlah, kejujuran diperlukan apa enggak dalam hidupku. Sama saja. Berkata bohong jelas GA NYAMAN buatku. Tapi berkata JUJUR juga ga nyaman buatku karena BERANI BERKATA JUJUR resikonya adalah DITINGGALKAN dan DIABAIKAN. Hmm….try to understand ya? Begitu kira – kira…
Selengkapnya.....

Dan bahwa Allah itu tidak pernah lupa...

November 3rd, 2006 Pagi ini aku senyum – senyum sendiri ketika sedang berbenah di rumah sambil mendengar ‘ocehan pagi’ ibuku. Anakku belum bangun. Masih asyik mimpi dengan dunia ‘space toon’-nya kali yee..enaknya yah jadi bayi? yang di mimpiin paling – paling boneka – boneka, pelangi, bintang, bulan, Donald Bebek dan ribuan kartun lainnya. Sementara kita orang dewasa, mimpinya gak jauh dari hal-hal ‘yang mengejutkan’. Tau sendiri dong? Tiba – tiba ocehan ibuku sampai pada berita bahwa tetangga sebelah rumah lagi bangun rumah. Trus apanya yang aneh? Tentu aja ga ada yang aneh. Tapi..ummm, maaf nih tanpa bermaksud merasa lebih baik (Insya Allah tetanggaku lebih baik dari aku), katanya tetanggaku yang namanya Bang Mujeni itu lagi ketiban rezeki 40 Juta dari engkongnya yang abis jual tanah warisan. Subhanallah…
Sekali lagi bukannya aku merasa lebih baik, Insya Allah ibadahnya lebih baik daripada ibadahku, tapi all peoples around us tau banget kalo Bang Mujeni demenya main pakong, kartu, and dugem, wiiii….(jadi kita bisa mengira – ngira jumlah munajatnya kepada Sang Maha Pemberi Rizki kan?) Maksudku disini tuh, bukan men-‘judge’ dia atau mengecilkannya. Sungguh tidak sama sekali. Tapi hanya ingin mengambil pelajaran dan kesimpulan dari rizki yang tetanggaku terima itu. Bayangkan deh, sedikit memohon kepada-NYA saja rizkinya 40 Juta, bagaimana kalau banyak memohon? Sangat jelas kan bahwa Allah itu tidak pernah lupa untuk memberi rizki kepada hamba – hamba-NYA. Dia tidak pernah lupa memberikannya walaupun hamba-NYA lalai dan memalingkan muka bahkan menyekutukan-NYA. Liat deh, 40 juta tetap mengalir dengan sempurna ke kantongnya. Hingga bang Mujeni bisa bangun rumah baru dan katanya nambah isteri satu lagi. Subhanallah. Asal adil aja ya bang?
Well, aku senyum – senyum sendiri dan mulai menyalahkan diriku, kenapa aku harus selalu mengeluh kalo lagi gak punya uang, mengeluh gak bisa beli susu buat anakku, mengeluh ga bisa beli bensin pada saat – saat akhir bulan. Tapi buktinya bisa nyampe dan tetep makan sampe berganti bulan yang baru. See? bahwa itu adalah rizki-NYA yang Maha Luas kan? Hanya saja aku kurang bersyukur. Dan menganggap bahwa rizki itu adalah HANYA yang keliatan besar. datang mendadak dan jumlahnya lebih dari biasanya. Allahumaghfirlii….
Yaa Rozaak…. Ampunilah aku dengan segala kelemahan ini. Sungguh Engkau Tiada Bandingannya.
Allah melapangkan rizki bagi siapa yang di kehendaki-NYA diantara hamba – hamba-NYA dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “ (QS. Al – Ankabuut : 62)
Dan Allah tidak pernah lupa..
Selengkapnya.....

Hmm...CINTA ?(...ketika susah mengatakannya? untuk siapa? untuk yang merasa aja deh...:)

Embun di pagi buta Menebarkan bau basah Detik demi detik ku hitung Inikah saat ku ‘pergi’ ? Oh Tuhan ku cinta dia Berikanlah aku ‘hidup’ Takkan ku sakiti dia Hukum aku bila terjadi Aku tak mudah untuk mencintai Aku tak mudah mengaku ku cinta Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta Senandungku hanya untuk cinta Tirakatku hanya untuk Engkau Tiada dusta..sumpah ku cinta Sampai ku menutup mata Cintaku..sampai ku menutup mata…
Selengkapnya.....

I wish I were in Harram Land...

Subhanallah..panasnya udara diluar, AC mobil udah full maximum aja masih berasa uap panasnya. Aku masih berada diantara kemacetan jalan panjang Kebon Jeruk ditemani lantunan Surrah Al-Baqarrah milik Syeikh Suddais yang sekarang jadi favorite kedua setelah Syeikh Sa’ad Al Ghomidi, kaset ini diberikan oleh Mutthowif ku – Abu Na’im waktu aku melaksanakan Umrah, bulan Juli lalu. Hmm….. :)Tapi panas di Madina Al-Munawarrah dan Makkah Al-Mukarromah walaupun 4 kali lipat panas Jakarta, gak terasa panas buatku, Subhanallah!. Yang terasa hanya silau matahari yang mentereng aja.Bulan Juli lalu, tepatnya tanggal 10 Juli 2006, Alhamdullillah aku dan temen – temen kantor mendapat rizki yang gak pernah terduga – duga sebelumnya olehku bahkan teman – teman unit kerjaku yang lain. Rizki Allah ini diberikan pada kami ber-enam lewat kebaikan hati atasanku dengan menggunakan uang surplus. Alhamdullillah. Mendengar ide atasanku itu, hatiku langsung bergetar karena bahagia dan harap – harap cemas semoga beliau mengijinkan aku untuk menjadi nominasi dan mendapat giliran pertama yang bisa berangkat Umrah. Setiap hari di saat Qiyamulail dan sesudah Shalat Fardhu aku ga pernah absen untuk memohon kepada Allah, agar Allah berkenan mengundangku ke Tanah Suci, impian terbesarku dari dulu sejak aku kuliah. Alhamdullillahirobbil ‘alamiin, akhirnya semuanya terwujud.
Aku bener – bener menikmati perjalanan Umrahku, sungguh…tujuanku hanya satu, BERIBADAH total kepada-NYA, walaupun….sederet doa dan permohonan sudah kutulis dengan rapi di secarik kertas.Aku tiba di Airport Jeddah, kuhirup udara Negara itu dalam-dalam, seolah-olah aku ingin agar udara itu tersimpan aman didalam ‘disket’ tubuhku, jujur aja nih..aku terkesima dengan orang – orang disana. Dari mulai cara bicaranya, pakaiannya, gerak – gerik mereka, aku bener – bener ngamatin banget deh. Hihihi..norak ya? Ganteng – ganteng and cantik – cantik deh, Masya Allah !Dari Airport kami langsung menuju Holiday Inn Hotel untuk bermalam menuju Madina. Sebelnya, makanan disana tuh, aneh – aneh gitu ya? Agak kurang connect nih sama perutku, soalnya full lemak, santen, cream….walaah!, paha ayamnya aja nih 3 kali lipet ayam di Indonesia, tuh ayam makannya dedek apa keju ya? Takjub banget deh sama tuh paha, biasanya kalo dirumah makan paha ayam bikinan Ibuku bias 2 kali nambah, eee.. disana mah paha satu aja gak abis, gede bangeeet!Anyway, aku berusaha keep in touch dengan orang – orang terdekatku, dari mulai cari calling card sampe internet. Yah..namanya juga di Hotel cuma nginet ½ jam aja harus bayar 20 real, kalo di rupiahin tuh sekitar 50 ribu gitu deh.
Dari Jeddah kami menuju Madina, lumayan makan waktunya lama juga sekitar 6 jam-an, soalnya sambil muter – muter siih..JJS alias jalan jalan siang, panas? Ugh,jangan ditanya…banget!!!Sampe Madina walhasil udah jam 10 malam. Ee..namanya juga mau menuju keni’matan tapi harus ada ujiannya dulu dong, Hotel Fayruzz yang udah di booking oleh travel kami tuh ternyata udah disalip sama travel lain, whew!!!! Udah cape, laper, ngantuk, penat…ee mau selonjoran, malah disalip orang, beteee banget, gak ada yang bisa dilakukan selain sabar, banyak – banyak istighfar dan foto – foto…pastinyaaa :p teteep....!.Finally kami nemu hotel juga dan kami semua nginep di Hotel Sanabel, lumayan, jauhnya 3 blok dari Masjid Nabawi. Peduli amat lah. yang penting bisa Tidurrrrr…..!Singkat cerita nih, besoknya kami ke Masjid Nabawi dari mulai melaksanakan Qiyamulail sampe Sholat Shubuh. Dan uniknya nih, makan pagi disana tuh jam 5 pagi. Subhanallah. Can you imagine? Sementara kalo di Indonesia makan pagi kan antara jam 7 – 10 pagi, wah…hari pertama yang bikin perut langsung ga ‘connect’ nih…!. Perut terima atau ga terima tetep harus makan, soalnya kalo ga makan bersamaan sama jam’ah yang lain dalam waktu 1 jam, dijamin cuma kedapetan air putih,yoghurt sama jus orange aja, sedih kan? Soalnya kta disana tuh harus jaga kondisi untuk selalu fit dan sehat deh, banyak acara dan full Ibadah banget kan? Jadi yah…terima nasib deeeh!
Rombongan Jama’ah kami ga lupa untuk ke Baqi (makam keluarga Nabi) tapi tapi kalo perempuan tuh ga boleh ke Baqi, bolehnya laki – laki, hiiiks….sedih banget! But anyway yang paling mengesankan di Madina adalah ketika waktu tertentu yang khusus dibuka saat di Masjid Nabawi. RAUDHAH…adalah nama untuk tempat atau rumah Baginda Rasullullah SAW, dan untuk wanita, hanya dibuka dengan jam tertentu. Yaitu antara jam 7 – 11 pagi. Untuk kesana harus berebutan per-gelombang dan masuknya bersaing dengan perempuan – perempuan dari Negara lain, Subhanallah tenaganya kuat – kuat banget untuk saling berebut. Kenapa berebut? Gini nih, rumah Baginda Rasullullah SAW itu ditandai dengan karpet yang bermotif dasar putih kembang – kembang dan tiang – tiang yang berwarna putih dengan motif lingkaran kecil hijau. dan ukuran tempatnya sangat kecil, sekitar 3 X 4 meter untuk bagian perempuannya, tentu aja ada hijabnya karena sebenernya itu tempat sholat laki – laki yang sangat dekat dengan makam Baginda Rasullullah SAW. Can you imagine ? seolah – olah kita sudah begitu dekatnya dengan Baginda Rasullullah SAW, Subhanallah, dekaaaaaaaaaaaaaaat sekali, rasanya seperti rasullullah SAW sedang memandangi umat – umatnya sedang berusaha untuk dekat dengan Beliau dan memohon syafa’atnya. “Allahummassholli alaa Sayyidinna Muhammad wa’alaa Ali Sayyidinna Muhammad….!” Kalimat – kalimat sholawat indah itu terus berkumandang sejak dari antrian perbatasan rumah Baginda Rasullullah SAW, dan ketika semua bersholawat dan melantunkan do’a – do’a untuk Baginda Rasullullah SAW, semua bergetar, menangis, histeris karena rasa cinta yang teramat dalam dan teramat besarnya kepada Beliau, tidak terkecuali aku. Alhamdullillah aku bisa sampai dibarisan paling depan hijab yang menghadap makam Rasullullah SAW, aku menangis sejadi – jadinya , berdoa, memohon, sholat sunnah disana, aku sampaikan salamku dan seolah –olah aku bayangkan dan aku hadirkan sosok Mulia beliau dihadapanku, tersenyum kepadaku, “salaam’alayka yaa Rasullullah..salaam’alayka yaa Habiballah..salam’alayka yaa Nabiyullah…salaam’alayka yaa Muhammad….!” Terus – menerus ku kumandangkan sholawat kepada Baginda dan gak kerasa air mata tuh kayak ga ada bendungannya, ngaliiiir terus. nangis tuh bener - bener yang kayak nahan rasa rindu sama seseorang yang kita cintaiiiiiiii banget. Subhanallah. Dan orang – orang bilang, dirumahnya itu beliau akan selalu menjawab salam kepada ummatnya yang selalu bershalawat kepadanya ketika kita menyampaikan langsung di Raudhah.
Hari terakhir di kota Madina khususnya di Masjid Nabawi bener – bener aku nikmati, aku geluti, pokoknya aku seperti takuuut sekali kehilangan dan takut ga bisa ketemu lagi. Hari terakhir di Masjid Nabawi yang indah itu aku nikmati sepuasnya, dari mulai ketika berjalan menuju Masjid – menghirup udaranya – menikmati teriknya matahari – menikmati hawa panasnya – silaunya yang memantul di jalan dan lantai masjid – ketika diperiksa oleh laskar akhwat di pintu masjid – berjalan disepanjang karpet masjid – sholat sunnah di masjid – membaca Al – Qur’an – Dzikrullah – Minum Air Zam – Zam – ke Raudhah – dan…mencium pintu masjid..hiks..hiks…:((
Well…ada cerita yang lebih mengesankan dan mendebarkan lagi, yaitu ketika rombongan jama’ah kami kepada tujuan akhir, yaitu Kota Makkah, Tanah Harram. Kota dimana Holy Ka’bah berdiri, Subhanallah!Perjalanan dari Kota Madina ke Kota Makkah lumayan jauh dan lama. Tapi itu semua harus kita jalani dengan hati Ikhlas dan Ridha. Karena kalo enggak, waaah jangan harap merasa nyaman.
Alhamdullillah karena hati yang ikhlas,ridha dan penuh doa ini mengiringi perjalanan, keajaiban demi keajaiban aku alami satu persatu. Tau nggak, waktu Muthowwifnya mengatakan kita sudah sampai perbatasan memasuki tanah Harram, kan di sepanjang jalan tol yang panjang banget itu kiri-kanan cuma tanah,bukit yang gersang aja sama rumah - rumah penduduk. Dan ajaibnya kalo kita perhatiin bener-bener niih....(kebetulan kan aku duduk disamping jendela bus) , itu Subhanallah ya... nggak tau cuma perasaanku aja atau emang bener ya...?tau nggak... tanah ,bukit, rumah penduduk ,kerikil-kerikil yang aku pandangin itu semua berputar seperti sedang thawaf. Subhanallah. Wallahi! aku ga bohong. aku tuh sampe ngucek-ngucek mata. ini bener apa enggak ya?
Aku ga putus bertasbih dan istighfar dan menyebut Nama - nama Allah. Luar biasa. Menakjubkan! sejak itu aku yakin banget, bahwa mahluk apapun di dunia ini, benda hidup atau mati semuanya bertasbih kepada Allah.
Tau nggak keajaiban yang berikutnya, itu terjadi langsung dalam diriku, sebelumnya dada dan fikiran ini sesak dengan maslah, pikiran-pikiran manusia yang aneh-aneh, nafsu, keinginan, and so on deh ya, tiba - tiba aja nih...hatiku tuh seperti dikosongkan, bebas dari segala perasaan nafsu pokoknya plong, damaaaaaaaiiii banget, nyaman, ringan, wah pokoknya Subhanallah deh! dan aku rindu persaan itu lagi...huaaa...hiks...hiks...La Illaha Illa Anta....!
Ketika akhirnya sampe di Kota Makkah, perasaan deg-degan ku makin ga karuan. kayak mau ketemu siapaaa gitu. Rombongan kami istirahat sebentar di hotel Mawaddah, yaaah..pasrah banget deh, liftnya yang suka ngadat, AC yang ga dingin, peralatan mandi yang ga komplit, kalo di Jakarta tuh kayak model hotel bintang 2 gitu deeeh. Oops, bukan apa-apa nih..soalnya kecewa banget. bilangnya kelas International, eeh hotelnya kelas teri gitu. tapi udahlah, itu juga indah kok.
Setelah istirahat kurang lebih 2 jam, rombongan kami bersiap untuk ke Masjidil Harram (setelah sebelumnya kami ngambil 'miqot' dulu di Beer Ali). kami tiba di Masjidil Harram, doa masuk Masjid itu kami panjatkan dengan seksama, perlahan kami mulai memasuki karpet karet menuju Holy Ka'bah, aku hanya tertunduk, rasa malu, rasa tak berdaya, rasa pasrah, rasa takut menyergap semua pikiranku, but totaly..aku bener-bener pasrah!
Berjalan sambil terus bertasbih..sampai akhirnya..bibirku bergetar, dan hanya mampu mengucapkan Allahu Akbar!...aku bergetar dan bergumam "Allahu Akbar...sungguh indahnya Ka'bah yang sehari-harinya hanya aku bisa lihat di sajadah, di lukisan, dan inilah pusatnya arah kiblat sholat kita selama ini..Subhanallah". Kami makin dekat..semakin dekat..dengan Holy Ka'bah, aku ga bisa menyembunyikan rasa kagumku. terpesona, sampe bengong, yang kayak orang norak banget! mata tuh sampe ga kedip deh!. Di pandu muthowwif kami seraya membaca doa-doa untuk memulai thawaf. ketika sampai pada perbatasan antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, seluruh manusia yang ada pada batas itu mengucapkan..."Bismillahi, Allahu Akbar !!!" seraya tangan kita mengecupkan ke arah pintu Ka'bah. (to be continued ya, mau go home dulu...cape nih!)
Selengkapnya.....

when my son call me,"mommy..........!"

Aku pulang malam ini dalam keadaan lelah. Di kantor banyak banget kerjaan. Perasaan sih kerja udah ga ada 'kedip'nya, tapi tetep aja nggak kelar. Nyetir juga udah gak terlalu konsentrasi, tapi Alhamdullillah karena sambil dengerin Syaikh Suddais, jadi sambil ikutan tilawah, walaupun cuma bergumam aja :P...duuh kapan yah bisa hapal Al-Qur'an..? Sampe kamar, aku ketemu mujahid kecilku lagi bercanda sama Ibuku (beliaulah yang selalu menjaga anakku dengan segenap kasih sayangnya kalo aku lagi cari uang - Ya Allah limpahkanlah Ibuku tercinta dengan limpahan Kasih Sayang dan Rahmat-MU)....
Then I said to my son,"Assalamu'alaykum.....mujahiiid", mata kecilnya langsung berbinar menangkap suaraku,"Mamiiiii...mamiiiii......" anakku langsung berlari ke arahku, memelukku, menciumi wajahku dan seolah-olah dengan bahasanya sendiri Ia adukan apa aja yang terjadi hari ini dengannya sebelum sempat aku bertanya "how was your day going with you, son?" , aku tak kalah erat memeluknya. Tahukah Nak? andai saja ada pohon uang hingga kita bisa memetiknya setiap hari, mami gak perlu ninggalin kamu seperti ini. mami lebih suka bersamamu, mendengar celotehanmu, melihat hal baru yang bisa kamu lakukan, dan segudang keajaiban lainnya yang ada dalam dirimu. Kamu adalah hartaku satu-satunya didunia ini, setiap detik dan helaan nafasku adalah doaku untukmu. Aku paling gak tahan memandang wajahnya yang polos kalo lagi tertidur pulas, pasti nangis deh. Yang paling pertama bergejolak dihati yaitu "PERASAAN BERSALAH" . Duhai..buah hatiku, maafkan mami yang telah membawa cacat 'cerita hidup'mu, siapa yang suka seperti ini? gak ada yang suka kok Nak... Laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu telah ....oops! tidak boleh diteruskan ya Nak, biar itu menjadi rahasia kita aja dan Allah Maha Tahu apa yang lebih baik bagi kita berdua. Aku tau, kamu pasti haus perhatian dari seorang 'ayah' ....tapi ...mami lebih suka seperti ini dulu Nak, tidak semua orang bisa menerima kita dalam keadaan seperti ini dengan ikhlas dan ridha. "Mamiiii......mimi cucuuuuuuu........" teriakanmu menyentak lamunanku, aku pandangi wajah lucumu itu kalo lagi minta susu, aku biarkan kamu berteriak-teriak sesukamu, aku tau..kamu lagi mencoba merebut perhatianku. Dan aku tambah suka kalo kamu udah ngerengek - rengek lebih dahsyat lagi.....hueeee.....:) Ya Allah Ya Muhayymin, Jadikanlah kelak permata hati hamba seorang anak yang shalih, yang ta'at dan takut kepada-Mu, berjihad di Jalan-Mu dan membela agama-Mu, bisa mendoakan dan berbakti kepada orang tuanya, dan berguna bagi orang banyak..Amiin...Allahumma Amiin. WHEN MY SON CALL ME, aku segera berjanji dalam hati,"Buah hatiku, belahan jiwaku, mujahidku...anakku sayang, mami berjanji akan membesarkan dan mendidikmu dengan tangan,hati dan keridhoan ini sampai kamu berhasil dengan mimpi dan cita-citamu...dan doaku akan mengiringimu dalam setiap langkahmu....percayalah, aku adalah orang pertama yang akan menyerahkan diri dan cintanya demi hidupmu".
Selengkapnya.....

For Some One...Some Where...I don't know...

Matahari sudah berlalu sekian jam bersama awan rindu yang terpaksa mengikutinya bersembunyi dibalik gelapnya langit.
Hingga berganti rembulan, belum juga kudapati senyum hangatmu disana.
Jika saja hari ini hujan, pasti ada tangga pelangi yang menemaniku untuk menjumpaimu yang bersembunyi pada gemintang.
Tahukah kamu? aku hanya ingin mengantar rindu
and someone wrote this beautiful words for me...Subhanallah..!
Dari rasa cinta yang fitri itu pula tercipta sebuah rasa. Diri ini yang dhaif ingin mengajak untuk selalu bersama mengasah nurani agar senantiasa peka atas jati diri ini. Merundukkan hati, berharap agar hidup dapat berjalan sesuai dengan harmoni.Cinta hakiki itu lahir dari hati yang merunduk pasrah, seraya meratakan kening pada hamparan sajadah. Meneteskan air mata kerinduan serta tak pernah lelah merengkuh dari Sang Pemiliknya.
Teruntuk bunga endeleweis
Selengkapnya.....