Resiko Sebuah Kejujuran Adalah Ditinggalkan dan Diabaikan...

Aku selalu takut akan kejujuran. Takut mengatakan keadaan yang sebenarnya. Itu udah berlangsung sejak aku masih kecil. Karena orang di sekelilingku selalu marah kalo aku jujur pada apa yang telah aku perbuat. termasuk Ibu. Aku tau ini adalah kesalahan. Tapi tunggu ! ini yang harus aku hadapi. Aku sedang bermetamorfosis dalam hidupku. Aku harap semua orang begitu. Harapanku, aku ingin mempunyai bentuk dan sayap yang cantik dan indah.
Semua orang punya masa lalu. Begitu pun aku. Dan aku termasuk dari ratusan anak Jakarta lain yang bergaya hidup metropolitan. Sekarang, Alhamdullillah aku jauh dari itu dan benci jika mengingatnya. Tapi yang gak aku benci ada pada bagian ketika dalam pencarian jati diriku aku pernah bergelut dengan sekelompok anak wayang (Alhamdullillah, adik–adik Teater ku masih menghargaiku sebagai kakaknya) dan ketika aku bergelut dengan sekelompok anak Pecinta Alam di kampusku (Alhamdullillah, sampe sekarang masih sebagai anggota tetap). Waktu SMA dulu aku suka sekali beracting, bisa memainkan peran sebagai orang lain dan melebur sebagai orang lain lalu kembali menjadi diriku. Aku bilang aku suka "dunia" itu pada Ibuku. Tapi Ibuku tidak. Tapi aku kan harus latihan setiap saat. Karena Ibu ga suka, jadi kau gak pernah bisa jujur kalo aku sangat menikmatinya. Walaupun akhirnya Ibuku mendukungnya dan sempet sukses. Suksesnya gimana? Itu rahasia, pokoknya sukses dengan hasil baik dan gak sia – sia. Alhamdullillah. Waktu kuliah, perhatian keinginanku beralih pada kecintaanku untuk wall climbing. Dan aku sangat menyukainya. Seminggu latihan 3 kali. Malah sampe nyolong waktunya kuliah. Trus latihan rafling dari lantai 8 alias aling atasnya gedung. Wiiiii..sekarang mah udah gak berani lagi. Jujur saja, aku bisa pernah jujur untuk mengatakan kepada keluargaku dulu, bahwa aku mencintai dunia itu. Mencintai ? hmm….dalem kayaknya tuh! Memang. Begitupun ketika aku mulai sesak menahan rasa tentang ‘cinta’ dan ‘sayang’. Aku harap anda sependapat denganku, bahwa kedua rasa itu manusiawi. Dan aku hanya seorang manusia yang dhoif. Sama kayak anda juga. Butuh cinta. Butuh sayang. Jujur aja, aku ga pernah berani mengungkapkan kedua rasa itu, selain karena kodratnya sebagai wanita, image-nya “DILARANG” agresif dan dilarang bilang cinta. Tapi itu dulu. Sejak kuliah aku merasa itu hak-ku dan resiko-ku. Bukan berarti mengungkapkan cinta dan saying hanya kepada manusia dan kepada setiap orang yang aku suka lho!. Lebih kepada pilihan – pilihan hidup. Dan resikonya? Ya tanggung sendiri. Kalo pada akhirnya SEKARANG, aku ga berani lagi untuk MENGUNGKAPKAN ‘cinta’ dan ‘sayang’ pada orang dan pilihan hidup. Itu lebih kepada pelajaran – pelajaran hidup beberapa tahun yang lalu, bahkan beberapa hari yang lalu. Urusan cinta ke orang dan pilihan hidup adalah “CLOSED” buatku. Karena apa? Karena… tidak selalu mengungkapkan “kejujuran” itu bisa memberikan hasil yang baik. Buat diri kita sendiri, buat yang menerima kejujuran dan lingkungan yang menerima kejujuran. Termasuk ketika dulu pilihan mantan suamiku untuk menceraikanku dan mencintai perempuan lain ketika aku baru saja melahirkan 4 bulan. Karena desakan cinta itu, dia harus jujur untuk bisa meninggalkanku dan anaku. Waktu itu jelas – jelas aku gak bisa terima. Harus berkompromi dengan hati, kepedihan, ketakutan, keterpurukan dan waktu. Sekarang aku bisa terima dan dengan JUJUR kukatakan aku bersedia BERCERAI. Itu salah satu kasus aja. Dan mungkin aja ketika kita mengungkapkan kejujuran bisa diterima dengan baik, seperti ketika aku JUJUR pada semua orang di sekelilingku bahwa aku nyaman dengan keadaanku setelah “hijrah” seperti ini . hingga pada suatu hari ada seseorang yang mengatakan , “ bahwa cinta abadi itu letaknya bukan ada pada cinta kepada manusia yang sifatnya hanya CINTA SEMU, tetapi CINTA ABADI hanyalah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla saja”. Dan itu murni benar, 100% correct. Jadi entahlah, kejujuran diperlukan apa enggak dalam hidupku. Sama saja. Berkata bohong jelas GA NYAMAN buatku. Tapi berkata JUJUR juga ga nyaman buatku karena BERANI BERKATA JUJUR resikonya adalah DITINGGALKAN dan DIABAIKAN. Hmm….try to understand ya? Begitu kira – kira…

3 comments:

Anonymous said...

commentnya nanti aja, klu udh selesai..

Anonymous said...

kenapa komen gue gak pernah muncul yak??? Curhat ni ye:P

uef

Anonymous said...

Blog nya keren Teh! Salut deh. Banyak hal yang kupelajari hari ini lewat tulisanmu. Terima kasih ya. Salam buat Mujahid kecilmu itu! lucu banget sih :)

Miemien
http://www.friendster.com/mientari