Shalat Adalah Perjanjian

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d. (Fatwa - fatwa Penting Tentang Shalat) Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir akbar, tetapi jika ia mengingkari kewajiban shalat maka ia kafir hukumnya menurut semua Ulama. Hal ini berdasarkan Sabda Rasullullah SAW : “Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah Shalat dan puncaknya adalah Jihad Fi Sabilillah” (H.R.Imam Ahmad,At Tirmidzi & Ibnu Majah Dan Sabda Rasullullah SAW : ”Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat” (H.R.Muslim) Kemudian Sabda Rasulullah SAW berikutnya : “Perjanjian antara kita dan mereka (orang – orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkan shalat sesungguhnya ia telah kafir” (H.R.Imam Ahmad) Sebab orang yang mengingkari kewajiban shalat adalah mendustakan Allah, Rasul-Nya dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama. Karenanya kekafirannya lebih besar daripada orang yang meninggalkannya secara tahaawun (lalai). Terhadap kedua bentuk tersebut maka wajib hukumnya bagi orang yang meninggalkan shalat untuk bertaubat. Seperti dalam Firman Allah SWT : “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat – ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (QS. At-Taubat : 11) Sedangkan dalam Sabda Rasulullah SAW :”Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat” (Shahih Muslim) Kemudian Sabda Baginda : ”Perjanjian antara kita dan mereka (orang – orang kafir) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya sesungguhnya ia telah kafir”. (Hadits Buraidah r.a dlm kitab As Sunan). Jika sudah jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, maka konsekwensinya adalah akan diberlakukan padanya hukum orang – orang yang murtad. Tidak ada nash yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu mukmin atau ia akan masuk surga atau selamat dari api neraka dan yang semacamnya, sehingga menuntut kita untuk mentakwilkan kekafiran/kekufuran pada orang yang meninggalkan shalat tersebut dengan kufru ni’mah (mengkufuri ni’mat) atau kufrun duuna kufrin ( kufur yang tidak mengkufurkan), yaitu diantaranya : 1. Dia tidak sah untuk dinikahkan. Seperti dalam Firman Allah SWT tentang perempuan – perempuan yang berhijrah : “Maka jika telah mengetahui bahwa mereka benar – benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami – suami) orang – orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang – orang kafir itu dan orang – orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” (QS. Al-Mumtahanah : 10). 2. Apabila ia meninggalkan shalat setelah akad nikah, maka nikahnya batal dengan sendirinya dan tidak halal baginya isteri berdasarkan ayat yang disebutkan diatas. 3. Seseorang yang meninggalkan shalat ini apabila menyembelih ternak maka sembelihannya tidak boleh dimakan karena haram. 4. Tidak halal baginya untuk masuk Kota Mekkah atau batas – batas tanah harramnya, berdasarkan Firman Allah SWT : “Hai orang – orang yang beriman, sesungguhnya orang – orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Harram sesudah tahun ini “ (QS.At-Taubah : 28) 5. Apabila salah seorang keluarga dekat/kerabatnya meninggal dunia maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Berdasarkan Sabda Rasullullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Usamah r.a : “Seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi harta orang musllim” . Kemudian Sabda Beliau : ” Berikanlah warisan kepada orang yang berhak menerimanya, jika masih ada sisanya maka ia untuk lelaki yang paling berhak (dari keluarganya)”. 6. Apabila ia meninggal dunia maka ia tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalati dan tidak dikubur bersama kaum muslimin. 7. Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama Fir’aun, Haman, Qarun dan Ubay bin Khalaf para pemimpin kekufuran – wal ‘iyadhu billah. Dan dia tidak akan masuk surga serta tidak halal bagi seorang pun dari keluarganya untuk mendoakan baginya Rahmat dan Maghfirah (pengampunan) karena dia telah kafir dan tidak berhak atas hal itu. Seperti dalam Firman Allah SWT : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang – orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang – orang musyrik, walaupun orang – orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang – orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam” (QS.At-Taubah : 113) Dan seperti dalam Firman Allah SWT : “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” (QS.Thaahaa : 74). Dan Firman-NYA : “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (QS.An-Naazi’aat : 37-39). Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-NYA untuk kita semua dalam urusan kebaikan dan keberuntungan, dan menjadikan hari – hari kita dalam kebahagiaan dan ketentraman. Hadanallahu wa iyyakum ‘ajmain. Wallahu ‘alam bishshowab. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan, ana masih dalam proses belajar dalam menulis. Mohon kritik dan sarannya ya...:) Resume : ISLAMIC PROPAGATION OFFICE IN RABWAH Riyadh, Saudi Arabia www.islam house.org

No comments: