Muslimah Palestina Hadang Tentara Israel

Eman Mulyatman dari berbagai sumber (Sabili-No.10 TH.XIV 30 November 2006/9 Dzulqa’idah 1427) Dengan alasan yang sama ketika menggempur Hizbullah, tentara Israel dibantu Amerika melakukan pembantaian di Beit Hanun. Lelah meminta bantuan dunia Arab, Mujahidah Palestina maju melindungi rakyat Palestina. Kekerasan di Jalur Gaza terus meningkat. Tiga mujahidin Brigade Izzudin Al Qassam, sayap militer HAMAS, gugur dalam sebuah serangan udara militer Israel di kampung Sejaiyah, Gaza. Ketiga korban menemui syahidnya dalam mobil saat mereka dihantam roket Israel. Jum’at (3/11). Di saat yang sama, tiga warga di Jalur Gaza dan tepi Barat menemui syahidnya di pagi buta. Media Israel mengungkapkan, sejumlah jenderal Amerika berperan aktif mengarahkan pasukan Israel dalam operasi militernya ke Jalur Gaza. Tak perlu tunggu klarifikasi, pemerintah Amerika Serikat lewat jubir Departemen Luar Negerinya Sean Mc Cormack mendukung secara tegas pembantaian Israel di Jalur Gaza. Dukungan AS itu bukan serta merta alias tanpa alasan. Israel kewalahan, sehingga sebagaimana dijelaskan sumber pejabat Israel, kehadiran instruktur AS yang mengarahkan dalam serangan ke Beit Hanoun itu, dilatari oleh rontoknya kedigdayaan militer Israel dalam perang melawan Hizbullah, Juli – Agustus lalu. Serangan Israel kali ini ke Beit Hanoun dilatari oleh tuduhan bahwa pejuang bersenjata berlindung dalam masjid selama tiga hari untuk menghindari serbuan Israel di Kota. Saat serangan itu berlangsung, Muslimah Palestina berlarian ke Masjid setelah mendengarkan imbauan dari radio HAMAS. Dalam waktu singkat 200 muslimah memenuhi Masjid dan menjadi tameng hidup di antara desingan peluru yang ditembakan Israel dari helikopter. Suara tembakan terdengar saat mereka berusaha melewati pasukan Israel. Ketika barisan Muslimah itu maju, terdengar lagi suara tembakan. Dua perempuan tersungkur jatuh. Akibat peristiwa ini, setidaknya 10 perempuan dan seorang juru kamera palestina terluka. Dua muslimah dipastikan meninggal saat itu, setelah pasukan Israel menembaki kerumunan wanita Palestina. Sumber Palestina menyebutkan, sejak dimulainya serangan Israel ke Beit Hanoun awal bulan ini, kelompok perlawanan sedikitnya telah melesakkan sedikitnya 80 roket ke wilayah permukiman Israel. Puluhan rudal dan bom rakitan juga menghantam sejumlah kendaraan perang Israel. Boleh jadi, fakta ini membuat berbagai media Israel menilai agresi yang dilancarkan Israel ke Beit Hanoun tidak akan membuahkan hasil apa pun dan takkan sanggup menghentikan serangan roket Palestina. Harian Haaretz edisi Ahad (5/11), misalnya. Dalam tajuk berjudul “Serangan Tanpa Tujuan”, harian politik terkemuka di Israel ini menilai perang di Beit Hanoun – terutama pengepungan terhadap Masjid an-Nashirv – akan membangkitkan ingatan bangsa Palestina pada Intifadhah Al-Aqsha kedua yang akan melahirkan perlawanan heroik bangsa tersebut pada Israel. Bukti lain yang diajukan Haaretz untuk menunjukkan naifnya serangan Israel ke Beit Hanoun adalah pernyataan beberapa komandan Israel bahwa harapan untuk menghentikan dukungan warga sipil terhadap HAMAS sangat tipis. Warga Gaza justru ramai –ramai menembaki Israel bersama Brigade Al-Qassam. Yang jelas, serangan gerilyawan Palestina telah membuat warga Sidirot ketar-ketir. Sumber media Israel yang terbit Ahad (5/11) menceritakan, roket – roket yang ditembakkan kelompok perlawanan Palestina telah membuat ratusan warga permukiman Israel di Sidirot ketakutan. Sebagian mereka bahkan menjerit histeris. Puluhan ribu warga Palestina di Utara Gaza melontarkan protes atas pembantaian Israel di Beit Hanounkemarin Rabu (8/11). Para demonstran berkumpul ba’da Shalat Dzuhur, dilanjutkan dengan shalat jenazah di tempat terjadinya pembantaian. Selanjutnya mereka mengusung jenazah para syuhada tersebut ke perkuburan syuhada yang terletak di sebelah timur distrik. Perkuburan itu pun dinamakan dengan makam “Syuhada Beit Hanoun”. Dalam pernyataannya, para demonstran mengecam SIKAP DIAM dunia Arab dan Internasional atas pembantaian yang terus menerus dilakukan Israel terhadap anak – anak dan wanita palestina. Mereka menuntut balas dendam atas para korban. PM Palestina Ismail Haniyah menegaskan didepan Masjid Palestina di Gaza usai Shalat Jum’at, pekan lalu, pemerintahnya akan menggunakanpakar dan ahli hukum Internasional untuk melakukan investasi guna mencari fakta aksi pembantaian yang dilakukan penjajah Zionis Israel di Beit Hanoun. Pemerintahnya berjanji akan memberikan kemudahan bagi para pekerja TIM Pencari Fakta ini dan memberikan segala fasilitas. “kami di pemerintahan saat ini, dan juga yang akan datang, tak akan tinggal diam terhadap pembantaian Israel ini “ tegasnya. Sayangnya, sikap ksatria yang ditunjukkan HAMAS justru tidak mendapatkan sambutan dari Negara – negara Arab. Gerakan Ikhwanul Muslimin di Yordania misalnya, mengecam pembantain Israel di Beit Hanoun, Rabu (8/11). Mereka menilai pembantaian ini bertujuan menjatuhkan semangat perlawanan terhadap penjajah Israel. Gerakan ini juga meminta semua negara Arab untuk memutuskan hubungan dengan Israel dan mengecam sikap diam yang selama ini mereka tunjukkan. Ya, kita memang perlu banyak belajar kembali tentang keberanian.

No comments: