Fabiayyi alaa Irrobbikumaa Tukadzzibaan…

Malam ini saya pulang kerja sekitar hampir jam 10 malam. lot of works! Sampe pusing banget, mata sampe panas, penat dan tulang punggung tuh sampe kaku, dan seperti biasa sebelum pulang ke rumah, saya sholat Isya dulu sama temen – temen diruangan. Betapa beruntungnya saya karena terlahir sebagai Muslim. Jadi diantara kepenatan kerja saya itu, saya sempet mengendurkan urat syaraf saya sekitar 15 menit untuk ruku’ dan sujud serta berkonsentrasi untuk mengadu tentang apa yang telah saya lakukan dalam beberapa jam yang lalu kepada-NYA. Subhanallah..ni’mat kan ?
Sampe rumah, anak saya sudah menyambut saya dengan baju tidur ‘bear’ kesayangannya. Hmm..sungguh suatu anugerah terindah melihat matanya yang bening serta senyumnya yang tulus menyambut kedatangan saya yang bener – bener udah kucel. Babyar blazzz…hilang semua rasa penat dan lelah yang udah mentok sampe ubun – ubun. Alhamdullillah…
Seperti biasa sambil rebahan ngelurusin punggung, anak saya duduk diatas perut saya sambil ngoceh –ngoceh dengan bahasanya sendiri dan sambil sekali – kali dia memeluk saya. Sungguh, saya sangat menikmatinya. Trus nanti dia lompat – lompat sambil nyanyi – nyanyi apa aja yang dia bisa. Hehehehe..lucu bangeud!. Saya nggak berlama – lama bercengkrama dengan anak saya malam itu, rasa lelah bener – bener sudah mendera saya. Selesai ganti baju tidur dan mengambil wudhu (ini kebiasaan saya kalo mau tidur, witir dulu dan menyisakan wudhu selama tidur, khawatir kalo – kalo Allah ‘mengambil’ saya ketika saya tidur). Lampu kamar saya matikan, ganti yang redup, karena kalo nggak gitu Nabil tuh nggak mau tidur. Saya usahakan nggak pernah lupa membaca Ayat Kursyi, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas ditelinga anak saya dan sama – sama membaca doa mau tidur.
Tiba – tiba mata saya tidak bisa terpejam. Saya justru jadi terpaku memandangi langit – langit kamar . Saya mendekap anak saya dengan segenap rasa cinta dan rindu saya. Dan air mata saya meleleh. Saya MEMBAYANGKAN....
Jika saja langit – langit kamar ini terbuka lebar dan rumah saya tanpa atap. Dan saya bersama anak saya hanya berdua di dunia ini tanpa sanak saudara. Berada di emperan toko, di malam yang sangat dingin tanpa selimut, hanya beralas kardus dan pakaian yang melekat di badan. Lalu saya mendengar perut anak saya berbunyi karena menahan lapar yang amat sangat (mungkin saja malam ini hanya makan nasi bungkus bekas makan orang yang sudah dibuang di tempat sampah dan sangat sedikit sekali), tapi saya memaksanya untuk memejamkan mata saja semoga lapar bisa segera hilang bersama mimpinya. Lalu saya bayangkan bagaimana nasib anak saya kemudian jika saya selamanya hanya seperti ini, dan tidak ada susu untuk anak saya. Ya Allah, betapa menakutkannya berada diluar rumah tanpa tempat berlindung yang layak, setiap saat bahaya akan menghampiri. Mungkin saja orang jahat, mungkin saja anjing liar, mungkin saja kamtib atau ‘orang – orang malam’ yang gak jelas juntrungannya.
Saya mendekap anak saya lebih erat lagi, dan air mata saya mengalir semakin deras. Saya merasa ketakutan dan tak berdaya. Saya hanya bisa menangis..menangis..dan menangis lalu terbata mengucap “…Allah…Allah….Allah…” saya meringkuk dan menangis sejadi - jadinya. Fabiayyi alaa Irrobbikumaa Tukadzzibaan…
Lihatlah, betapa ni’matnya hidup saya saat ini bukan ? ternyata saya masih di lindungi dan diberi keni’matan tak terhingga oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, saya masih bisa merasakan kasur yang empuk, berada diruangan kamar ber-AC bersama buah hati saya, dan dikamar saya ada TV dan perangkat elektronik lainnya, ada baju – baju bagus yang tergantung dilemari saya dan saya bisa bertukar pakaian setiap hari. Saya masih bisa memakai mobil saya setiap kali ke kantor, membeli susu anak saya, membeli baju dan sepatu yang lucu untuk anak saya walaupun yang berharga murah, masih bisa menikmati makanan kesukaan saya, dan yang jelas saya masih diberi keni’matan oleh Allah untuk berlindung di sebuah rumah sederhana dan luas yang dibangun dari hasil keringat Ibu dan Almarhum Ayah saya tercinta. Subhanallah… Kalau saja kita berani mengakui secara jujur, bahwa kita sering melupakan keni’matan – keni’matan yang diberi Allah walaupun hanya setetes air. Kita sering mengeluh bahwa Allah tidak adil terhadap nasib kita. Kita sering menggerutu bahwa kita tidak sepandai orang lain, tidak secantik atau seganteng orang lain, tidak sekaya dan seberuntung orang lain. Dan akhirnya kita lalai. Astaghfirullahulladzi laa illaha illahuwwal hayyul qayyum wa ‘atubu ilaiih..
(Allah) Yang Maha Pengasih (1) Yang telah mengajarkan Al-Qur’an (2) Dia menciptakan manusia (3) Mengajarnya pandai berbicara (4) Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (5) Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-NYA) (6) Dan langit telah ditinggikan-NYA dan Dia ciptakan keseimbangan (7) Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu (8) Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu (9) Dan bumi telah dibentangkan-NYA untuk mahluk-NYA (10) Didalamnya ada buah – buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang (11) Dan biji – bijian yang berkulit dan bunga – bunga yang harum baunya (12) Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan (13) …(QS.Ar-Rahmaan : 1 - 13)

2 comments:

oRiDo said...

yah memang, disaat penat setelah bekerja dan pulang bertemu dengan anak2, segala sesuatunya jd terasa indah, capek dan penat pun tak terasa..

yah memang, Allah swt juga memerintahkan kita utk mensyukuri apa2 yang telah kita terima, apapun kondisinya.. "apabila engkau syukuri, maka akan Allah tambah nikmatnya.."

mensyukuri nikmat tidak saja hanya dengan ucapan hamdalah, akan lebih baik jika nikmat yg kita dapatkan juga bisa dirasakan oleh oranglain..

Anonymous said...

Siiiiiiiiiii.......pppppppppppppppp