July 12, 2006. The Miracle Hand – the last time when I was in Makkah

(penggalan kisah hari terakhir di Makkah Al-Mukarromah)

Aku berharap, tangannya yang halus sehalus hati dan budi pekertinya. Tanganku dingin karena rasa pusing yang amat sangat sedang bergolak dalam diriku, aku kacau sekali selepas Thawaf Wada’ volume darahku menurun. Aku pingsan.
Antara sadar dan tidak sadar, aku menyadari bahwa tanganku dalam genggaman seseorang. Sepertinya tangan itupun ragu – ragu menggenggamku, karena bukan mahramnya. Namun aku tau, dari suaranya samar – samar kudengar rasa khawatirnya yang begitu dalam terhadapku. Ia selalu terus berusaha menyadarkanku agar aku tidak pingsan. Ia sangat takut mataku terpejam, beberapa kali ia berbisik, “mba..istighfar, ucapkan nama Allah..apa saja yang bisa mba sebut..ayo, jangan tidur”. Air mataku menetes, aku pun ingin cepat bisa kembali pulih, tapi aku sudah kehabisan tenaga setelah aku melaksanakan Thawaf Wada’.
Aku akui, hari terakhir itu, aku memang sangat memaksakan diri, aku khawatir tidak bisa bercengkrama lama – lama di Masjidil Harram, karena ba’da Ashar kami harus sudah ada di Bandara King Abdul Aziz. Akhirnya, setelah makan pagi yang seadanya, aku langsung menghambur ke Masjidil Harram untuk Thawaf Wada’. Dan itu aku lakukan sendiri tanpa di dampingi siapapun.
Ternyata hari itu, teriknya matahari lebih terik dibanding hari kemarin. Dan tanpa aku sadari stamina tubuhku memang udah ‘low batt’. Aku bergetar karena terharu memasuki Masjidil Harram, sama terharunya seperti ketika pertama kali memasuki Masjidil Harram dan melihat Holy Ka’bah. Setelah sholat Tahiyatul Masjid, Dhuha, sholat Sunnah Taubat dan berdo’a aku langsung menuju Ka’bah untuk melaksanakan Thawaf Wada’. Tubuhku makin bergetar hebat, karena aku tau inilah hari terakhir aku bisa berada di Masjidil Harram yang aku cintai ini. Aku sangat jatuh cinta dengan Masjidil Harram dan Masjid Nabawi, tidak ada selama hidupku aku rasakan keindahan, keteduhan dan kenyamanan seperti di dua Masjid ini. Ya Rabb..aku mohon kembalikan lagi aku kesana untuk berhajji…
Selama putaran pertama aku lalui benar – benar dengan kekhusyukan yang dalam, aku rasakan ni’matnya bersama orang – orang yang juga sedang melaksanakan thawaf dengan khusyuknya. Air mata sudah seperti tidak ada bendungannya lagi, mengalir deras tak berhenti. Thawaf pertama aku lewati sambil mengucap salam pada pintu Ka’bah, “Bismillahi…Allahu Akbar”..tangisku makin menjadi. Kemudian thawaf kedua..ketiga..keempat..kelima..keenam..dan ketujuh..rasa sedih dan haru-ku makin memuncak. Aku langsung menghambur ke Multazam, menyelinap diantara orang –orang bertubuh besar, menangis disana tepat di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Semua rasa sedih, pilu, gundah, masalahku, penyesalan atas dosa – dosaku selama ini, permohonan taubatku, semuanya aku adukan dan aku tumpahkan disana. Allahummaghfirlii…
Rasanya aku enggan sekali berpisah dengan Masjid dan kota ini, aku tidak tau lagi apakah menciumi Ka’bah diperbolehkan atau tidak, tapi aku bagai sedang memeluk anakku (takut sekali dipisahkan). Aku menangis sejadi – jadinya. Setelah puas disana, aku tetap berdri didekat Hajar Aswad, memohon pertolongan Allah, jika Allah mengijinkan untuk terakhir kali aku mencium Hajar Aswad sekali lagi, tanganku sudah meraihnya tapi tiba – tiba aku terdorong keluar. Seperti ada yang menarikku. Tapi sebentar kemudian seperti ada yang mendorongku lagi untuk maju ke depan. Aku hanya mengikuti arus. Nafasku sudah sesak karena terdesak orang –orang besar. Tiba – tiba aku sudah sampai di depan Hajar Aswad, Subhanallah…aku langsung menciumnya dan langsung berdoa ‘sapu jagad’ disana, lalu seperti ada yang menarik leher dan badanku untuk keluar dari kerumunan itu. Huff…!!!aku terengah – engah. Alhamdullillah…
Kemudian aku ambil wudhu di kran belakang Maqom Ibrahim dan sholat Sunnah kembali di belakang Maqom Ibrahim. Tiba – tiba aku rasakan kepalaku pusing dan pandanganku berkunang – kunang. Aku sudah sempoyongan. Tempat berteduh yang paling dekat dengan posisiku saat ini adalah kran tempatku mengambil wudhu tadi. Aku minum disitu, dan ambil wudhu lagi, sambil memohon kekuatan kepada Allah agar aku tidak pingsan disana sendirian. Karena aku tidak ada teman sama sekali. Aku berjalan perlahan –lahan keluar Masjid. Sambil sesekali menegok ke arah Ka’bah, air mataku meleleh. Aku enggan berpisah. Aku sempat minum air zam –zam di sepanjang jalan keluar Masjid dan berdiri lama memandangi situasi didalam Masjid. Subhanallah..matahari makin terik.
Aku ingat, saat itu aku hanya bisa berzikir ‘Allah..Allah..Allah..’ dalam hati sambil berjalan perlahan – lahan untuk menuju hotel yang untungnya jaraknya tidak terlalu jauh dari Masjid. Hanya sekitar 5 menit. Tiba dimuka hotel aku semakin limbung, aku menuju restoran bawah, karena kudengar suara teman – temanku dan jam’ah lain ada disana. Tiba di meja makan aku sudah tidak tahan lagi, yang aku ingat aku roboh. Dan samar – samar terdengar suara ‘orang yang menggenggam’ tanganku itu yang begitu khawatirnya terhadapku dan suara beberapa temanku, lalu aku ingat ada pertolongan 977 (seperti 911) yang memeriksaku dan akhirnya aku dibawa dengan ambulance untuk ke Rumah Sakit terdekat khusus Jama’ah. Aku memohon kepada Allah, agar kesehatanku bisa segera pulih dan agar Jama’ah lain tidak menderita karenaku. Karena kami harus tiba di Bandara selepas Ashar. Alhamdullillah aku pulih.
Diperjalanan menuju Bandara aku terus berzikir sambil aku berusaha mengingat wajah ‘orang yang tangannya menggenggam tanganku’. Orang yang berusaha memberiku kekuatan.
Hmm..Alhamdullillah, akhirnya aku ingat! Aku berharap, tangannya yang halus sehalus hati dan budi pekertinya. Dan untuk rasa terima kasihku dan mengikat tali persaudaraan dengannya, aku berikan jam tangan kesayanganku untuk disimpannya. Alhamdullillah..tali silaturrahmi ini masih berjalan baik sampai sekarang hingga kini ia sudah menikah dan sedang menanti kelahiran buah hatinya yang pertama. Aku berdoa yang terbaik untuknya, dan rasa terima kasihku yang tak terhingga karena saat itu telah membantuku dan khawatir terhadap keadaanku.
So sweet..and so nice.
I dedicated for my brother Abu Na’im in Makkah. Jangan lama – lama di Makkah ya de..kalo masa tugasnya udah kelar,
please back to Indonesia. And remember…yo have a lovely sista' here !

No comments: