Ketika Air Kali Rindu Bercumbu Dengan Air Hujan

Bismillahirrohmanirrohiim.. 16.29 WIB. ACT Office – Abang’s desk. A beautiful 'green day' with ACT (‘sedikit’ jalan yang diberikan Allah untuk membantu korban banjir) Just finished all calls. Alhamdullillah.. Still garing niy, abis nda ada dengung fave saya yang biasanya tiap hari mampir di kuping. Murottal. Apalagi. Sebenernya suasana kantornya cukup asick sih, walaupun agak meped..hehe…sempid bangeud. Tapi lumayanlah! Well, ini juga nebeng laptop-nya Abang. Tadi tuh sebenernya gini. Saya lagi nyetir nganterin Ibu ngeliat pameran expo di JHCC, and suddenly Abang called me up untuk minta bantuan ke ACT (Aksi Cepat Tanggap). Alhamdullillah, ini nih yang lagi saya tunggu (sebenernya sih pengen lebih dari ini, misalnya nyemplung langsung gitu, kangeun bangeud pengen ngerasain lagi jamannya jadi anak P.A, jadi nolongnya berasa getoo!). tapi nda apalah, yang penting kan niatnya nyampe dan mudah – mudahan Allah ridha, itu yang penting kan ?

Tugas saya hari ini di ACT cari informasi by phone di tiap IPD (Induk Posko Daerah) yang memerlukan Pelayanan Medis, dan barusan saya abis nelponin para Koordinator IPD yang nyebar hampir di tiap – tiap titik banjir, masih nyisa 2 (dua) contact person nih, nda tau ya nda bisa di hubungi, mungkin karena jaringan semua seluler lagi pada ble’e akibat banjir kali ya ? Well..I’ve done my job finally. Dan angka korbannya lumayan mencengangkan juga, apalagi tadi lewat informasi yang saya dapet langsung di daerah Tugu Selatan, tepatnya di Jalan Bendungan Melayu Utara angka korban di wilayah itu sekitar ± 1500 Jiwa. Masya Allah...

Dan mereka minta agar bantuan Pelayanan Medis dapat dikirimkan besok pagi. Karena memang wabah penyakit menular sudah mulai menjalar dari korban satu ke korban lainnya and almost of them menderita flu, demam dan gatal kulit. Kasian ya ?

O iya, tadi saya liat foto – foto korban banjir di ACT, duh kasian banget! Sampe harus nginep di genteng. Alhamdullillahnya…kali ini saya tidak diberi cobaan ini, coba kalo saya dan keluarga yang mengalami, Ya Allah betapa sedih dan pilunya. Membayangkan”… : anak saya menangis lapar minta susu dan makan, sedangkan kami sudah tidak mempunyai persediaan makanan lagi. Sedangkan air datang begitu cepat dan kami harus terjebak di loteng karena menghindari air yang kian meninggi hingga 2 meter. Subhanallah…! Sekali lagi saya harus banyak bersyukur atas ni’mat yang Allah berikan bagi keselamatan saya dan keluarga karena terhindar dari musibah yang memilukan ini.

“ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. At-Taghaabuun : 11)

Ketika Air Kali Rindu Bercumbu Dengan Air Hujan (kisah ironis dan kisah rejeki). Pos Pengumben. Saturday - February 3rd ,2007.

Dan pagi itu saya harusnya berangkat ke kantor, karena hari itu saya masuk pagi. Hari itu sekitar jam 9-an. Hujan masih mengguyur daerah saya. Lumayan lebat. Saya agak kaget ketika keluar rumah, lalu lintas yang hilir mudik lebih rame dari biasanya. Di ujung gang, teman saya dengan jas hujannya menyetop mobil saya, katanya nda usah keluar deh hari ini, kalo nggak mau kejebak banjir dan bete dijalanan karena macet. Saya masih nda percaya, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ketika sampe di prapatan jalan (masih sangat dekat rumah) saya menemui jalan yang bener – bener crowded dan mencekam. Wah ..feeling saya, kayaknya musibah 2002 ke-ulang lagi nih. Dan saya putuskan untuk turn arround. Balik pulang ke rumah. Hujan sudah mulai reda. Saya heran, kok banyak orang – orang berduyun – duyun menuju jalan besar. Kata khodimah (PRT) saya, orang – orang lagi mau liat banjir dibawah (tepatnya arah Komplek Perumahan Villa Kelapa Dua – Superindo).

Mau liat banjir??? cuma mau liat??? Ya Allah!. Tapi saya jadinya penasaran banget. Akhirnya saya ikutan keluar rumah untuk ‘melihat’ korban banjir. Airnya deras. Ngeri banget. Ya Allah, saya ingin maju ke depan membantu mereka, tapi dilarang oleh orang – orang disitu karena kali yang meluap airnya cukup deras. Akhirnya saya juga cuma bisa ikutan ngeliat aja dari kejauhan. Nggak berapa lama dari tempat saya berdiri, dari arah lokasi banjir itu seorang mayat di gotong dengan tandu seadanya, badannya keliatan sekali dingin dan biru (katanya si korban meninggal karena terendam air yang meluap cepat, kebetulan korban tersebut sedang sakit, jadi nda bisa kemana – mana mungkin. Entahlah, beritanya nda jelas).

Again, saya cuma bisa melongo melihat mayat itu, dan dibarengi dengan gelengan kepala tetangga – tetangga lain yang juga berdesis ‘iba dan kasihan’. Saya miris banget sebenernya ngeliat pemandangan selanjutnya yang terjadi. Saya nda ngerti, harus menyebut itu adalah “ladang rejeki bagi orang lain” atau “menari diatas penderitaan orang lain”. Jika saya adalah pemilik gerobak yang bisa digunakan untuk menyebrangkan orang lain ke daerah yang aman dari banjir atau untuk mengevakuasi korban di tempat yang tidak terjangkau, Demi Allah...saya tidak akan memungut bayaran atas itu semua. Bagaimana bisa kita melakukan itu, sedangkan saudara kita sendiri sedang dalam musibah dan kita tega mengambil uang pemberian darinya? Padahal belum tentu saat itu mereka sedang menggenggam uang atau uangnya sempat terselamatkan, bisa jadi saat itu mereka sedang sangat panik karena mungkin saja anaknya tertinggal didalam, atau harta satu – satunya yang dimilikinya belum sempat diselamatkan. Bagaimana jika itu terjadi pada diri kita sendiri ? Bayangkan, untuk menyebrangkan orang atau korban banjir itu, mereka harus membayar 5 – 10 ribu/orang. Dan untuk motor mereka harus membayar 25 – 30 ribu/kendaraan. Tidak ada yang berusaha mengevakuasi. Semuanya berebut mengais rejeki dari sana . Innallillahi… Saya sedih sekali. Andai ya saya bisa dan boleh berbuat sesuatu saat itu dan membantu mereka. Nda perduli dengan keadaan sebelum mereka kebanjiran, walaupun kadang mereka bertingkah ‘pongah’ karena kekayaaan mereka, yang jelas saat itu mereka sedang dalam musibah kan ? Mungkin yang bisa saya sebut ‘mengais rejeki’ itu bagi montir dadakan yang ada dilokasi banjir itu kali ya ? Toh mereka tidak mau dibayar diatas harga normal, untungnya mereka mengatakan “seikhlasnya aja deh..cuma mau bantu kok, nggak dikasih juga gak apa – apa”. Alhamdullillah…minimal masih ada orang - orang yang berhati emas ditengah kondisi super egois saat itu.

Well, akhirnya..disinilah saya sekarang. Jam ini, detik ini dan saat ini saya diijinkan Allah untuk datang ke ACT untuk sekedar membantu lewat telphone tanpa harus berbasah – basah atau melawan air dan kelelahan membantu korban banjir dilapangan. Mungkin belum saatnya ya ? Later on, HARUS !!! Dan saya ikhlas meninggalkan anak saya yang seharusnya ber-‘jadwal kencan’ dengan saya, karena hari ini jadwal libur kerja saya. Tapi Demi Allah, saya ikhlas. Sangat ikhlas. Dan bahkan saya menginginkan bisa menolong lebih dari ini. Sungguh.

Rasullullah SAW : “Tidaklah satu musibah menimpa seorang muslim kecuali denganya Allah SWT mengampuni dosa – dosanya sampai sebuah duripun yang menusuknya” (mutafaq ‘alaih)

I dedicated for : Semua korban banjir diseluruh pelosok Jakarta , “bersabarlah terhadap musibah yang menimpa kita karena semua ini adalah kehendak dari-NYA dan semoga musibah ini memberikan pelajaran dan ibrah bagi kita semua, atas ketamakan dan kesombongan kita dimuka bumi ini, dan semoga menjadi pelebur atas dosa – dosa kita”.

Abang-ku!(Bayu Gautama) “Jazakallah Khair...atas kesempatan baik yang diberikan untuk mampir ke ACT and melebur disini walaupun baru dipinggir” - http://www.aksicepattanggap.com/

ACT crews. “thanks to allowed me here guys!” (weee..ge-er bangeud yak!)

No comments: