Aku Rindu Saat Dimana Aku Berada Di Titik ‘NOL’

Office.17:36 Wib
Saat itu perjalanan kami dari Madina menuju Makkah. Saat dimana perjalanan saya rasakan penuh dengan Keajaiban, Keindahan dan Rahmat Allah SWT. Sebelum menuju Kota yang sangat di cintai Rasulullah SAW itu, kami harus mengambil Miqot (niat) di Masjid Bir ‘Ali (letaknya sekitar 15 KM dari Kota Madina) karena kami akan melaksanakan Umrah.
Setelah selesai Miqot, (dan rekan – rekan jama’ah (yang laki – laki) ber-Ihram)), sebelum melanjutkan perjalanan menuju perjalanan ke Kota Makkah, kami (terutama sesama perempuan) saling bermaafan sesama Jama’ah. Saat itu saya tidak dapat membendung rasa haru saya, karena “Permohonan Maaf” yang saya lakukan dan saya terima dari sesama Jama’ah benar – benar tulus dan penuh harap. Pelukan maaf dari ‘roomate’ saya pun saya rasakan begitu hangat. Saya dan rombongan akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Makkah Al–Mukarromah. Sepanjang perjalanan saya berzikir. Berzikir yang sungguh – sungguh saya lakukan dengan kepasrahan dan penghambaan saya kepada – NYA. Disepanjang perjalanan saya diberi tahu oleh Mutthawif (guide) untuk berzikir mengikuti papan zikir yang ada di sepanjang jalan menuju Kota Makkah.
Keajaiban pertama mulai saya rasakan. Kebetulan saya duduk pas disamping jendela bus. Sambil berzikir saya memandang kearah luar jalan. Hanya ada bukit – bukit gersang, bebatuan, rumah penduduk yang juga gersang banget dan berpencar tidak teratur. Tapi anehnya…semua susunan diluar sana seperti sedang berputar alias ber-Thawaf. Saya hampir – hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Saya kucek – kucek mata saya, takut salah lihat atau karena saya pusing karena perjalanan jauh yang melelahkan. Saya pertegas pandangan saya ke arah bebatuan dan bukit – bukit diluar sana. Masih sama. Semuanya seperti sedang Thawaf. Subhanallah….! Tidak terasa air mata mengalir di pipi saya. Saya benar – benar takjub dengan apa yang saya lihat dan alami. Tapi again, saya tetap tidak percaya dengan keajaiban ini. Saya berusaha tenang dan memejamkan mata saya sambil terus berzikir dan akhirnya tertidur.
Ketika saya terbangun, saya masih mendapati pemandangan yang sama, bebatuan, bukit gersang dan rumah penduduk. Setelah minum air zam – zam yang saya bawa dari Masjid Nabawi – Madina, saya usap muka saya dengan air zam – zam itu agar lebih segar. Kembali saya penasaran dengan pandangan saya tadi. Subhanallah…masih tetap sama, semuanya ber-Thawaf. Saya terus berzikir sampai akhirnya saya alami keajaiban berikutnya, tiba – tiba saya merasa darah dalam tubuh saya naik ke kepala secara perlahan. Seketika itu juga dada saya terasa ‘plong’. Saya merasa tidak merasakan sesuatu apapun kecuali perasaan pasrah, pasrah dan pasrah. Dada saya terasa lega, seluruh beban dalam hati dan pikiran saya terkikis habis. Tanpa terkecuali. Semua bersih. Tidak ada beban, tidak ada rasa benci, tidak ada rasa marah, tidak ada rasa iri atau pikiran aneh – aneh yang menyelimuti hati dan akal saya. Saat itulah saya rasakan bahwa saya berada di TITIK NOL. Subhanallah… Mungkin seperti itu rasanya ya menjadi manusia baru atau sebutlah…bayi yang baru lahir. Benar – benar nol. Taunya cuma nangis karena haus. Dan saat itu, saya juga taunya nangis karena ‘haus’ kasih sayang Allah. Saat ini, disini, saat saya mengetik penggalan cerita saya ketika umrah ini, saya sudah kembali lagi ke titik manusia yang penuh masalah dan tekanan. Dahsyat banget deh pokoknya. Kalo bukan karena kekuatan Allah ‘Azza Wa Jalla dan kalo bukan karena saya begitu mencintai ‘malaikat kecil’ saya, mungkin saya tidak akan sanggup bertahan seperti ini. Saya rindu berada di ‘titik nol’. Rindu sekali. Saya berharap suatu hari nanti saya bisa merasakan kembali saat dimana saya berada pada ‘titik nol’ bersama orang – orang yang saya cintai…I wish. One fine day! Amiin. Insya Allah…
Doakan ya…?!!

1 comment:

Sun Flower Arco said...

waalaikumussalam.wr.wb. ummu nabil,wah oggixnya error gk bisa koment...jdi disini...Terima kasih sudah mampir yah....id saya rabiah79...salam sayang buat keluarga.

-wassalam-

vera