Happy Birthday, Dad...!

25 Mei 1943 Hari ini Bapak Milad...

Tadi sebelum ke kantor mampir ke TPU Joglo sebentar, ngeliat tempat istirahat Bapak. Wah..yang jagain udah nda bertanggung jawab. sampe banyak rumput liarnya. Nda ke urus. Kacau balau. Saya sedih banget. Trus saya kirim doa dan ngebersihin 'rumah' Bapak. Kalo ntar saya punya rejeki, Insya Allah 'rumah' Bapak mau saya rapihin... Bapak, percayalah...untaian doa untukmu tak akan pernah putus, Insya Allah. Bagi saya, Bapak tetap laki - laki terbaik yang saya punya di atas bumi ini, sepanjang hidup saya ...
Happy Birthday, Dad...!
Selengkapnya.....

Shut Up!!!!!

Asli...!!! bener - bener nda ngerti!!! salah ku apa? harus gimana? kenapa jadi begini? kenapa harus gini? gimana bisa ya???? apanya yang salah ya? ngomongnya? sikapnya? atau apanya? atau akunya yang terlalu melow atau sensi bangeud kali ya?
eee......istighfar aja lah...dan...DIAM! ayat berikut ternyata sangat membantu :
"Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101)
("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu" ) well...shut up!!!
Selengkapnya.....

Allah Hafiiz...! (alone, but could made you strong!)

Kejadian 10.15 WIB. Pasar Mayestik. Sendirian

Pagi ini saya harusnya udah ke kantor jam 10 pagi karena ada mid test mahasiswa, tapi karena Ibu meminta tolong saya untuk membelikan sesuatu ke Pasar Mayestik, jadilah saya harus kesana dulu sebelum berangkat ke kantor (biasa urusan cewe’...he hee).

Saya terburu – buru pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 10.10 Wib, target saya setengah jam dari Mayestik ke rumah dan seperempat jam dari rumah ke kantor, jadi nda telat – telat amat.

Maha Suci Allah karena telah memberikan saya ‘shocking theraphy’ di saat saya buru – buru. Ban mobil saya kempes mendadak. Hal biasa kan ? alhamdulillah kempesnya masih di area parkir dan setelah seorang tukang kerupuk mengetuk bagasi mobil saya untuk memberitahukan bahwa ban mobil saya kempes. Jadilah saya parkir di sebelah mobil toko dagangan kerupuknya yang (sekali lagi, Alhamdulillah...) kosong, seolah – olah Allah memang sudah menyediakan tempat untuk saya.

Saya keluar dari mobil dan melihat ban mobil saya yang emang bener –bener kempes abisss!!! Cuma satu kalimat yang terucap dari mulut saya, “Laa haulaa walaa quwwata illa billah...” (tiada daya dan upaya melainkan melalui pertolongan Allah..). Dan itu sungguh – sungguh saya ucapkan dengan penuh kepasrahan. Saya tau persis bahwa saya nda punya dongkrak dan lupa kalo ban cadangan saya ternyata ada pakunya juga, untungnya aja tubeless, jadi nda kempes walaupun terkena paku.

Sungguh hanya karena tangan Allah-lah dan karena Allah yang menggerakkan hati mereka, maka saya nda perlu memohon minta pertolongan orang – orang disekitar, dengan sigap ada beberapa orang yang segera membantu dan meminjamkan dongkrak kepada saya. Subhanallah!

Hasilnya, alhamdulillah saya bisa tiba di kantor jam 11 kurang 8 menit. Well,Rencananya nanti sore saya mencari tukang tambal ban. Ternyata biarpun dalam keadaan sendiri tapi kita bisa lebih kuat dari yang kita pikir. Semoga dimudahkan Allah...!

Selengkapnya.....

For All Akhwat...

A beautiful email from someone, in the middle of my 'low ink spiritual'...

Bismillahirrohmanirrohiim... Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang di idamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan.
Ukhti…Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu.
Ukhti…Lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya ksasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu.
Ukhti…Lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa seklaipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.
Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju Tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan. Atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.
Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang snagat mengerikan yaitu maksiat.
Ukhti…Cantiknya wajahmumu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu.
Ukhti…Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu.
Ukhti…Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di Palestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang di lakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan. Ukhti…Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman. Mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berperilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang antum rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan islam.
Ukhti…Tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada Sang Khalikmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….?
Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masih kah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di atas rata - rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu? lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu.
Ukhti…Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak - kotak nongkrong di masjid masih terlihat kosong dan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu?
Ukhti…Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum laksanakan , kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksanakan. Tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastic, puasa yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum? makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.
Ukhti…Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader. Ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah.
Ukhti…Rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti Rosulullah sebagai panutanmu.
Ukhti…Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu? Ukhti…Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu.
Ukhti…Masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa "akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik", jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu. Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga rabbmu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu. Ukhti…Muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlak busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri? bukankah akhwat baik yang hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik.
Ukhti…Pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari isteri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah.
Ukhti…Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya akan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah.
Ukhti…Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar.
Ukhti… Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain.
Ukhti…Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan isteri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan isteri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi isteri solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang?
Mudah2an bermanfaat……dari sebuah multiply…….. Many Thank u for : Akh Bambang atas email-nya dan Ukh Suryaniningsih (Wordpress) it was so meaningful. Jazakumullah Khairan Katsiro.
Selengkapnya.....

9 Menit...

Office. 16:57 Wib.Ngejar Lemburan Lagi bete paling Enak Ngebut-ngebutan! Duuh..hari ini tuh suasana hati lagi nda karuan bangeud deh! well, back to basic neh...kumat. kalo lagi bete, lagi kesel, lagi boring, lagi kesel, dan lagi sedih hal yang paling enak terjadi kalo pas aku lagi nyetir. kenapa? karena aku bisa ngebut sepuas hati. Yihuuuuy.....! Asick bangeud!! paling enak ngebut, kalo jalanan jakarta lagi agak padet. berasa 'sembalap'nya kan? salip kiri, salip kanan, nempel mobil depan..Uggghhhh!!!! ni'mat bangeud!! dari rumah ke kantor hampir berjarak sekitar 10 Km, lumayan..9 menit ajah! Puasssss.... Alhamdulillah, selamat sampe tujuan! heee......he.. Selengkapnya.....

Saya Kangen Bapak...

Office Room. Ba’da Isya 19:21Wib. May 2007 (Berhayal andai bisa bersama Bapak untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’i) Sebenarnya sudah sering saya mendengar bagaimana cara atasan saya berbicara dengan kedua buah hatinya ketika berbicara via telpon. Kedua anaknya kebetulan bersekolah di Bandung. Jadi Beliau memantau dan berkomunikasi keadaan anak – anaknya dari Jakarta lebih sering melalui telpon dan dalam sebulan beberapa kali beliau rutin mengunjungi anak - anaknya kesana. Beliau selalu menyapa anak – anaknya dengan sebutan ‘sayang’ walaupun kedua anaknya laki – laki. Caranya berbicara dengan anak – anaknya seketika mengingatkan saya kepada Bapak. Bapak saya sendiri memang nggak pernah memanggil saya dengan sebutan ‘sayang’, tapi cara atasan saya memberi perhatian kepada anak – anaknya selalu membuat saya ‘terdiam’ karena seketika ingat Bapak, seperti saat ini.
Saya memang selalu kangen Bapak. Saya selalu iri jika hingga saat ini masih ada teman – teman saya yang masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Betapa bahagianya.
Saya ingat ketika masa kecil dulu, Bapak sering ke luar kota untuk Tugas Dinas. Jadilah saya yang selalu menemani Ibu tidur dikamar. Tau nda apa hal paling saya tunggu – tunggu jika Bapak pulang? Oleh – oleh? Bukan. Jika pulang dari Tugas Dinas Bapak seringnya pulang menjelang subuh, dan hal yang paling saya tunggu adalah saat Bapak membopong saya dan memindahkan saya ke kamar, kemudian mengusap kepala dan mengecup kening saya. Saya dapat menghirup hangat bau badan Bapak yang khas. Saya sangat bahagia ketika itu.
Saya rindu ketika tangan kekarnya menyentuh kening saya ketika saya sakit, dan saya lihat wajah cemasnya dan kekhawatiran dalam kalau - kalau puterinya terlalu lama menahan rasa sakit.
Saya ingat bagaimana Bapak selalu mendisplinkan kami untuk shalat tepat waktu dan selalu mengajari kami mengaji selepas maghrib. Tau nda? Saya dan kakak saya tidak perlu guru ngaji untuk mengenal huruf ‘aliif-ba-ta-tsa…dst’ dan kami bisa membaca Juz’amma berkat ajaran Beliau. Makanya mungkin Beliau selalu mengusahakan tiba di rumah tepat waktu dan sebelum maghrib tiba. Beliau selalu mengajak kami berjama’ah dan selalu memimpin doa bagi kami, termasuk mengajak kami untuk ziarah kubur. Bapak nggak pernah marah, marahnya cuma kalo kami lalai shalat dan mengaji. Baru sekarang saya faham maksudnya.
Saya menyesal, saya pernah mengecewakan Bapak dengan kenakalan saya ketika sekolah dulu. Ceritanya waktu SMA saya ingin seperti teman – teman gank saya yang lain, bisa nyetir mobil. Saya sering mencuri kunci mobil untuk belajar mobil sendiri. Ujung – ujungnya saya suruh belajar mobil sama Bang Udin, beliau tuh tetangga kami dan kebetulan supir mikrolet.hehehe… Alhamdulillah, jam terbang nyetir udah tinggi dan banyak fungsinya.
Ketika Bapak sakit, untuk anfal penyakitnya yang ketiga kali Bapak harus menjalani operasi di otaknya karena ada pendarahan. Selesai operasi, Bapak ada diruang isolasi selama 3 hari dalam keadaan koma. Saya ingat bagaimana rasa khawatir saya yang begitu dalam terhadap keadaannya, sehingga rasanya perlu bagi saya untuk bolak – balik membisikkan ayat kursyi di telinganya.
Ketika Bapak sakaratul maut, saya sempat tidak ikhlas melepasnya pergi. Walaupun saya tidak henti membisikkan kalimat – kalimat Allah ditelinganya. Ketika sepupu saya meminta saya untuk mengikhlaskan, akhirnya Bapak menghembuskan nafas untuk yang terakhir dan itu terjadi dipangkuan saya. Saat itu saya seolah tidak bisa berdiri dengan tegak. Rasanya seluruh tubuh ini lemas tanpa tulang. Saya tidak berhenti menangis dan membaca Al-Qur’an disamping jenazahnya. Saya terharu ketika saya ikut memandikan jenazahnya. Untuk terakhir kali dalam hidup Bapak, saya benar – benar hadir untuk melayani Bapak.
Ketika saya wisuda, saya berharap ada Bapak duduk dikejauhan sana bersama Ibu memandang tersenyum dan bangga kepada saya, seperti saat saya menyanyi di panggung pertama kali saat acara perpisahan sekolah di SMP dulu.
Ketika saya menikah, saat itu saya berharap laki – laki yang akan mengarungi hidup bersama saya menjabat tangan Bapak ketika mengucapkan Ijab Kabul. Saat itu saya berharap ada Bapak dan ingin sekali bisa memeluk Bapak.
Ketika saya melahirkan, saya berharap mendapatkan senyum Bapak dan kecupan kecil dikening saya. Dan saya sangat berharap tangan kekar Bapak mengelus kepala saya seperti saat saya kecil dulu waktu saya sakit panas.
Ketika saya bercerai, saya berharap Bapak lah yang akan membela saya dan menenangkan kegalauan serta kesedihan saya.
Dan ketika saya ada di Tanah Harram, Makkah, saya meng-umrahkan Bapak pada umrah yang kedua. Saat itu air mata tidak terbendung lagi karena dosa – dosa saya yang segunung. Dan jika saja saat itu saya dapat memohon, andai saya bisa melaksanakan Thawaf dan Sa’i bergandengan dengan Bapak. Alangkah bahagianya. Alangkah indahnya..
Saya berharap kelak beginilah rasa hati anak saya, terhadap diri saya, Ibunya. Hingga tiada henti doa keluar dari bibirnya di setiap akhir sholatnya. Maka tiada pernah akan hilang sosok orang yang dicintainya didalam lubuk hatinya seumur hidupnya. Semoga… “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada Ibu Bapakmu dengan sebaik – baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua – duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali –kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’ (24) “ (QS. Al Israa’ : 23-24) Inspired by Mr.Aziz Luthfi, Executive Programme Director – UIEU, "Many Thank U,Boss... to give me a chances!" and dedicated for My Beloved Dad "I Love U So Much, Dad...".
Selengkapnya.....

Alhamdulillah..Dapet Ipod..!

Alhamdulillah....
Actually saya nda berniat ikut undian seh (karena saya ngedaftar untuk quick pay PLN lewat tabungan saya dan nda tau kalo akan ada undiannya segala), eh tau2nya early mornin' temen kantor saya telpon,"koen...lo dapet undian Ipod Nano,lo menang, nama lo ada disini...beneran! ambil gih".
nda percaya sih tadinya..
eee..pas sampe kantor, ngeliat beritanya di lembar tagihan temen, bener juga. Alhamdulillah...
lumayan kan, kalo lagi mau bobo kupingnya di sumpel Ipod, Insya Allah isinya Murrotal aja 30 Juzz, jadi bisikan setan susah masuknya. hueeee.....
Semoga Bermanfaat!
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-NYA dan Dia (pula) yang menyempitkan (rizki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman" (QS. Ar-Ruum : 37)
Selengkapnya.....

Why Does It Hurt Me So...?

Saya nda tau kemana hati ini melangkah. Saya sendiri heran, kenapa saya jadi mudah sedih dan menangis. Saya rapuh sekali. Saya lebih sensitif. Seorang kawan baik, menegur sikap saya. Kenapa saya sekarang kelihatan 'weak' dan sedikit sekali tersenyum? Saya tertawa dan berceloteh riang tapi mata saya tidak bisa membohonginya, didalam mata saya penuh dengan kejadian tragis yang tidak ingin saya alami. Kawan baik saya tau, 'didalam' diri saya sedang remuk. Ketika dia memeluk saya, serta merta saya menangis tanpa tau apa sebabnya. Saya menangis sejadi - jadinya tanpa bisa berkata apapun. Semakin erat dia mendekap saya, saya makin tidak karuan menumpahkan tangis saya. Hampir sama dahsyatnya ketika saya 'ditinggalkan' Bapak. Ketika kawan baik saya bertanya 'kenapa? ' , saya hanya terisak menatapnya dan tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut saya. Hanya air mata saya aja yang berbicara. karena terus menerus air mata itu berlarian dari sana. Kata kawan baik saya, seolah saya 'minta tolong' tapi dia nda tau apa yang harus di tolong. Ketika saya berpelukan dengan Allah di akhir malam, dada saya semakin sesak. mungkin karena terlalu banyak yang saya minta. Dan saya tidak pernah putus berhenti berdoa di setiap sujud terakhir saya ketika sholat "...Allahummaghfirlii zanbi qullahu diqqohu wajillahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa 'alaa niatahuu wasshirrohu, Allahuma ini 'audzubika minnal hammi walhazaan wa 'auzdzubika minnal azzi wal kassal wa 'audzubika minnal dzubni walbukhl, wa 'audzubika min gholabati dayni wa kahri rizaal...." Sepertinya memang ada sesuatu dalam diri saya yang belum juga selesai. Tapi saya harus menutupnya rapat - rapat agar hidup saya bisa terus berjalan normal. Saya harus kuat membawa 'luka' yang menganga dan terus 'basah'. Orang bilang luka seperti itu harus dibuka agar cepat kering, takut lama - lama membusuk. Saya mengerti, tapi perban sudah terlanjur saya balut. Saya tidak mampu membukanya. Kenapa? karena perban itu sudah terlalu rumit melilit dan tidak pernah berhenti melilit. Dan saya membiarkan orang lain melilit luka saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali memohon kepada Sang Penggenggam Jiwa untuk 'menguatkan' saya menahan rasa sakit pada luka ini. "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan - kesalahanmu)" (QS. Asy-Syuura : 30) Jika saat ini saya tidak bisa tertawa, bukan karena saya tidak ingin. Tapi karena saya memang sudah tidak bisa tertawa. Sebenarnya saya harap - harap cemas, takut jika kelak saya tidak bisa meng-copy paste 'senyum cantik' saya seperti dulu. Tiba - tiba saya ingin kembali ke umur 7 tahun saya lagi. Gembira memakai baju coklat kesayangan saya yang di belikan Bapak ketika saya berulang tahun, berputar centil didepan cermin setelah Ibu menguncir dua rambut tipis saya, tertawa lebar ketika sedang bercanda dan mencari ikan julung - julung di empang dekat rumah dengan kakak tercinta saya dan menangis terharu ketika Bapak mencium kening saya ketika Beliau akan berangkat melaksanakan Ibadah Hajji. Sebenarnya Allah sayang sama saya. Bahkan mungkin mencintai saya. Banyak hal yang seharusnya bisa membuat saya 'kuat' . Hanya saja saya terlalu terhanyut dalam keterpurukan saya. Saya terlalu cengeng menghadapi 'kepahitan' dalam hidup saya saat ini. Mungkin juga saya terlalu manja pada masalah saya. Lihatlah, betapa Allah dengan indahnya membalik keadaan saya. Skenario-NYA yang mengharu biru akhirnya membuat saya bertekuk lutut dan mengakui ke-Agungan-NYA. Subhanallah... Saya tidak perduli sekarang bagaimana orang menatap saya. Bisa jadi menatap 'penuh kasihan' atau bisa jadi menatap 'tanpa tanya' atau mungkin menatap 'datar'. Yang jelas... Saya memang terluka. Saya ingin ada orang 'terbaik' yang memeluk kerapuhan saya, mengeringkan luka menganga saya, membasuh air mata saya, mengangkat wajah kelu saya dan mengembalikan 'senyum cantik' saya. "Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni'matan hidup didunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang - orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal" (QS. Asy-Syuura : 36) office.19:00 wib.lonelyness
Selengkapnya.....

Sebenarnya Saya Merasa Sangat Bersalah...

Home. 04:30 Wib. April 2007

Nabil Khan. Buah hati saya masih tertidur pulas. Sekitar jam 5 pagi sekarang. Setelah tadi hampir 2 jam ‘bercinta’ dengan Allah. Saya merenung. Merasa bersalah sebenernya…

Jam 20.30 Wib biasanya saya baru sampai rumah. Saya selalu pulang dengan keadaan lelah dan penat. Namun akan tetap saya paksakan tersenyum dan pasti tersenyum jika sudah mendengar celoteh riang buah hati saya.

Keadaan ‘darurat’ ini memang membuat saya harus terus bertahan bersama buah hati saya, agar saya tetap bekerja mencari uang untuk kebutuhan kami berdua (Insya Allah, kelak jika di perkenankan dan di percaya Allah lagi untuk mendampingi seseorang yang shalih bagi pemimpin saya dan anak – anak, saya hanya akan bekerja di rumah dan selalu ada di rumah bagi ‘keluarga’ saya tercinta. Insya Allah.Amiin).

Setelah memakirkan mobil di garasi, anak saya sudah menunggu didepan pintu rumah,”mamiii……” teriaknya lucu. Rindu sekali dia dengan kehadiran saya. Dia mengulurkan kedua tangannya minta dipeluk dan digendong. Tapi saya lagi bener – bener ‘jahil’ saat itu, saya hanya mengusap kepalanya dan meninggalkannya. Dia sepertinya tertegun dengan sikap ‘dingin’ saya. Dia mengekori saya sambil menarik gamis saya dan terus memanggil nama saya minta di gendong. Saya hanya bermaksud menggodanya. Tapi apa jadinya? Dia ngambek beneran. Dan seperti biasa, sikapnya kalo udah ngambek langsung tiduran di ubin dan nda mau di pegang oleh siapapun. Mukanya dilipat ‘delapan belas’ dan sekarang anehnya dia punya kebiasaan baru memukul kepalan tangannya ke tubuhnya sendiri.

Saya dengan sabar berjongkok disampingnya yang terus ngambek dan merajuk, sambil mengulurkan tangan saya untuk menggendongnya. Rupanya dia marah beneran. Hihihi…lutuna!

Akhirnya saya punya inisiatif untuk pergi menjauh darinya, supaya dia mengejar saya, tapi apa yang terjadi kemudian? Dia menangis keras sambil berteriak memanggil saya. Tahukah anda apa yang kemudian buah hati saya katakan sambil menangis, “mami bedo…buyuk…nakang…jeyek…huuuuu…taya tucing, taya toa, taya titus…huuuuuu..!” (artinya ; “mami bego…buluk…nakal…jelek…(menangis) kayak kucing, kayak kecoa, kayak tikus…(menangis)).

Saya mendelik dan hanya bisa beristighfar. Astaghfirullahal’azhiim…

Saya nda ngerti dia bisa dapet kata – kata ‘amazing’ dari mana. Saya tidak mau menyalahkan anak saya karena kata - kata itu dan juga tidak mau menyalahkan Ibu saya yang sudah menjaganya seharian. Saya yakin dia mengajarinya dengan kata – kata dan perilaku yang baik. Walaupun itu bisa saja terjadi. Atau bisa jadi Karena mendengar setiap kalimat yang dia dengar di sinetron – sinetron, atau kata – kata dari anak khodimah (PRT) saya, Wallahu’alam…anak kecil kan gampang menyerap pembicaraan orang lain.

Yang jelas saya sangat merasa bersalah…

Bersalah karena tidak bisa mendidiknya dengan kata – kata yang baik. Bersalah karena harus bekerja dan hanya bisa mengajarkan sholat ketiaka saat waktu libur saja. Bersalah ketika hanya bisa mengajarkan doa mau mau makan dan doa mau tidur ketika saya ada dirumah saja. Bersalah ketika melihat anak murrobi saya yang sudah hafal banyak surrah di dalam Juz’ama sedangkan anak saya tidak. Bersalah karena sering ketika mau tidur, saking capeknya saya lupa membacakan Ayat Kursyi, Al- Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas di telinganya.

Ampuni hamba Yaa Allah…

Kuatkanlah hamba menghadapi ‘everysingle’ ujian-MU ini…

Terimalah doa hamba, agar kelak KAU takdirkan buah hati hamba menjadi anak yang Shalih…Amiin!

Selengkapnya.....

...Dan Saya Takut 'Jatuh Cinta' Lagi...

Saya takut untuk bisa 'mengalami'nya lagi.. Saya takut menangis lagi.. Saya takut perih lagi.. Saya takut tidak berdaya lagi.. Saya takut sakit lagi.. Saya takut khawatir lagi.. Saya takut ditinggalkan lagi.. Kuatkan Iman saya ya Rabb.. Agar saya hanya mencintai-MU melebihi rasa cinta saya kepada hal - hal lain.. Agar saya hanya takut kepada-MU melebihi rasa takut saya dari hal - hal lain.. Irhamnaa..Ya Rabb.. (ketika saya merasa 'sudah tidak punya rasa cinta') Selengkapnya.....

Ketika Hati Nurani Terkikis Oleh Absen

Office. 29 April 2007.16:00 Wib

Saya sedang berada di ruang front office untuk pelayanan mahasiswa sore itu, sekalian menunggu absensi dosen yang akan diambil. Di depan saya duduk seorang mahasiswi sedang menunggu waktu kuliah. Saya sibuk dengan pekerjaan saya, dia sibuk dengan handphone-nya.

Tiba – tiba masuk seorang mahasiswa dari luar dengan nafas tersengal – sengal. Dia langsung terduduk di lantai, tepat disamping mahasiswi yang duduk di depan saya.

Saya cuma melirik dengan sudut mata saya, tingkah mahasiswa kan aneh – aneh. Ada bangku tapi malah selonjoran di lantai. Freak!

Mahasiswi : “kenapa lu? . Rupanya mereka saling kenal. Mahasiswa : “kagak, gue ngejar waktu aja nih, takut telat” Mahasiswi : “belooom..bu Paulina belom dateng, trus lu kenapa duduk disitu?” Mahasiswa : “panik gue…!

Kemudian mahasiswa itu berdiri dan pindah duduk persis disamping mahasiswi.

Mahasiswi : “Bu Paulina udah dateng belom sih mba?

Mahasiswi ini ganti bertanya kepada saya.

Saya : “belum liat say…, belum dateng kali

Mahasiswa : “ah sialan! serius mba belum dateng???” dia bertanya kesal kepadaku.

Saya : “Hussss…

Mahasiswa : “kirain gue udah telat, sial..gue udah nabrak orang tadi sampe nyusruk, buru – buru..eee die belom dateng lagi! Ah kampret!

Saya : “Innalillahi !!!!” kali ini saya menghardiknya pelan. Saya geleng – geleng.

Mahasiswa : “bukan gitu mba, gue tadi nabrak orang naek motor sampe nyusruk, gue pake mobil, tapi karena gue buru – buru makanya tuh orang gue tinggal. Gue ngabur aja. Untung sepi gak ada orang liat. Kagak tau dah gimana nasibnya tuh orang!

Dia berdalih. Tapi mukanya nda memperlihatkan kalo dia menyesal. Kayak sedang bercerita abis nonton sinetron. Kali ini saya menatapnya serius.

Mahasiswi didepan saya juga menatap nda percaya, “Gila lo!!!serius lo??? tanyanya serius. Mahasiswa itu mengangguk cuek.

Saya : ”trus, kamu nda nolongin orangnya??” tanyaku penasaran.

Mahasiswa itu menggeleng cuek. Nyengir. Saya mendelik. Melongo. Mahasiswi disebelahnya geleng – geleng.

Mahasiswa : ”abis gimana mba? Ibu Paulina kan disiplin banget. Gue udah dua kali gak lulus mata kuliahnya dia, masa gara – gara gue nolongin orang yang nyusruk tadi, gue harus nggak lulus ketiga kali sih mba? “ ujarnya berdalih sambil menutup mukanya.

Saya kali ini bener – bener melongo. Bener – bener heran. Bener – bener nda percaya. Hanya bisa beristighfar berulang – ulang.

Saya : “are u insane???? Tolongin dong deee….yang kamu tabrak kan manusia?!! bukan benda atau hewan??!” saya sedikit histeris. Saya stress ngeliat gayanya yang cuek banget.

Mahasiswi : “tau lo, kucing aja lo tabrak bisa cilaka, orang lagi lu tabrak kagak lu tolong!

Saya menunggu responnya. Mahasiswa itu mengusap mukanya.

Mahasiswa : “yah sorry dah, Allah juga tau lah kalo gue buru – buru! Mudah – mudahan tuh orang selamet dah, gak napa – napa, maap Ya Allah..saya buru – buru..swear!

Saya : “tau nda kamu, kalo Allah berkehendak, bisa jadi kamu tetep nda lulus mata kuliah Bu Paulina atau Allah membalik nasib kamu seperti nasib orang yang kamu tabrak tadi gimana?” ujar saya gemas (gemas marah tapi…).

Dia hanya terdiam, mengusap muka lalu menepuk jidatnya. Kurang pasti juga dia menyesal atau tidak. Sedangkan saya sibuk dengan pertanyaan dalam hati ; bagaimana bisa orang secuek itu ya? emang udah nda ada hati nuraninya lagi apa ya?

Tiba – tiba teman saya yang menangani masalah perkuliahan masuk. Dua orang mahasiswa tadi langsung menyerbu ,”Bu Paulina udah dateng belum mas?” tanya mereka hampir bersamaan. “udah dateng dari tadi, pindah ke ruang 312” ujar temanku. Sambil menggerutu mereka segera menghambur keluar ruangan. Dan sepertinya mahasiswa yang menabrak orang naik motor dengan mobilnya sampe ‘nyusruk’ tadi, langsung melupakan kejadian naas yang baru saja dialaminya tanpa rasa bersalah.

Masalah itu hilang bersama angin yang membawanya serta ke ruang 312.

Apa yang sedang terjadi dengan ‘hati nurani’ manusia saat ini ya? Yang terkikis ternyata nda cuma moral dan urat malu, bahkan hati nurani juga sudah terkikis.

Lalu bagaimana Allah mengampuni kita semua?

Kamu sekali - kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan (22) Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang - orang yang merugi (23) (QS.Fushshilat : 22-23)

Subhanakallahumma wabihammdika, Asyhadu ‘alaa ilaaha illa anta, astaghfirruka wa ‘atubu ilaiik..”

Selengkapnya.....