Saya Kangen Bapak...

Office Room. Ba’da Isya 19:21Wib. May 2007 (Berhayal andai bisa bersama Bapak untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’i) Sebenarnya sudah sering saya mendengar bagaimana cara atasan saya berbicara dengan kedua buah hatinya ketika berbicara via telpon. Kedua anaknya kebetulan bersekolah di Bandung. Jadi Beliau memantau dan berkomunikasi keadaan anak – anaknya dari Jakarta lebih sering melalui telpon dan dalam sebulan beberapa kali beliau rutin mengunjungi anak - anaknya kesana. Beliau selalu menyapa anak – anaknya dengan sebutan ‘sayang’ walaupun kedua anaknya laki – laki. Caranya berbicara dengan anak – anaknya seketika mengingatkan saya kepada Bapak. Bapak saya sendiri memang nggak pernah memanggil saya dengan sebutan ‘sayang’, tapi cara atasan saya memberi perhatian kepada anak – anaknya selalu membuat saya ‘terdiam’ karena seketika ingat Bapak, seperti saat ini.
Saya memang selalu kangen Bapak. Saya selalu iri jika hingga saat ini masih ada teman – teman saya yang masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Betapa bahagianya.
Saya ingat ketika masa kecil dulu, Bapak sering ke luar kota untuk Tugas Dinas. Jadilah saya yang selalu menemani Ibu tidur dikamar. Tau nda apa hal paling saya tunggu – tunggu jika Bapak pulang? Oleh – oleh? Bukan. Jika pulang dari Tugas Dinas Bapak seringnya pulang menjelang subuh, dan hal yang paling saya tunggu adalah saat Bapak membopong saya dan memindahkan saya ke kamar, kemudian mengusap kepala dan mengecup kening saya. Saya dapat menghirup hangat bau badan Bapak yang khas. Saya sangat bahagia ketika itu.
Saya rindu ketika tangan kekarnya menyentuh kening saya ketika saya sakit, dan saya lihat wajah cemasnya dan kekhawatiran dalam kalau - kalau puterinya terlalu lama menahan rasa sakit.
Saya ingat bagaimana Bapak selalu mendisplinkan kami untuk shalat tepat waktu dan selalu mengajari kami mengaji selepas maghrib. Tau nda? Saya dan kakak saya tidak perlu guru ngaji untuk mengenal huruf ‘aliif-ba-ta-tsa…dst’ dan kami bisa membaca Juz’amma berkat ajaran Beliau. Makanya mungkin Beliau selalu mengusahakan tiba di rumah tepat waktu dan sebelum maghrib tiba. Beliau selalu mengajak kami berjama’ah dan selalu memimpin doa bagi kami, termasuk mengajak kami untuk ziarah kubur. Bapak nggak pernah marah, marahnya cuma kalo kami lalai shalat dan mengaji. Baru sekarang saya faham maksudnya.
Saya menyesal, saya pernah mengecewakan Bapak dengan kenakalan saya ketika sekolah dulu. Ceritanya waktu SMA saya ingin seperti teman – teman gank saya yang lain, bisa nyetir mobil. Saya sering mencuri kunci mobil untuk belajar mobil sendiri. Ujung – ujungnya saya suruh belajar mobil sama Bang Udin, beliau tuh tetangga kami dan kebetulan supir mikrolet.hehehe… Alhamdulillah, jam terbang nyetir udah tinggi dan banyak fungsinya.
Ketika Bapak sakit, untuk anfal penyakitnya yang ketiga kali Bapak harus menjalani operasi di otaknya karena ada pendarahan. Selesai operasi, Bapak ada diruang isolasi selama 3 hari dalam keadaan koma. Saya ingat bagaimana rasa khawatir saya yang begitu dalam terhadap keadaannya, sehingga rasanya perlu bagi saya untuk bolak – balik membisikkan ayat kursyi di telinganya.
Ketika Bapak sakaratul maut, saya sempat tidak ikhlas melepasnya pergi. Walaupun saya tidak henti membisikkan kalimat – kalimat Allah ditelinganya. Ketika sepupu saya meminta saya untuk mengikhlaskan, akhirnya Bapak menghembuskan nafas untuk yang terakhir dan itu terjadi dipangkuan saya. Saat itu saya seolah tidak bisa berdiri dengan tegak. Rasanya seluruh tubuh ini lemas tanpa tulang. Saya tidak berhenti menangis dan membaca Al-Qur’an disamping jenazahnya. Saya terharu ketika saya ikut memandikan jenazahnya. Untuk terakhir kali dalam hidup Bapak, saya benar – benar hadir untuk melayani Bapak.
Ketika saya wisuda, saya berharap ada Bapak duduk dikejauhan sana bersama Ibu memandang tersenyum dan bangga kepada saya, seperti saat saya menyanyi di panggung pertama kali saat acara perpisahan sekolah di SMP dulu.
Ketika saya menikah, saat itu saya berharap laki – laki yang akan mengarungi hidup bersama saya menjabat tangan Bapak ketika mengucapkan Ijab Kabul. Saat itu saya berharap ada Bapak dan ingin sekali bisa memeluk Bapak.
Ketika saya melahirkan, saya berharap mendapatkan senyum Bapak dan kecupan kecil dikening saya. Dan saya sangat berharap tangan kekar Bapak mengelus kepala saya seperti saat saya kecil dulu waktu saya sakit panas.
Ketika saya bercerai, saya berharap Bapak lah yang akan membela saya dan menenangkan kegalauan serta kesedihan saya.
Dan ketika saya ada di Tanah Harram, Makkah, saya meng-umrahkan Bapak pada umrah yang kedua. Saat itu air mata tidak terbendung lagi karena dosa – dosa saya yang segunung. Dan jika saja saat itu saya dapat memohon, andai saya bisa melaksanakan Thawaf dan Sa’i bergandengan dengan Bapak. Alangkah bahagianya. Alangkah indahnya..
Saya berharap kelak beginilah rasa hati anak saya, terhadap diri saya, Ibunya. Hingga tiada henti doa keluar dari bibirnya di setiap akhir sholatnya. Maka tiada pernah akan hilang sosok orang yang dicintainya didalam lubuk hatinya seumur hidupnya. Semoga… “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada Ibu Bapakmu dengan sebaik – baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua – duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali –kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’ (24) “ (QS. Al Israa’ : 23-24) Inspired by Mr.Aziz Luthfi, Executive Programme Director – UIEU, "Many Thank U,Boss... to give me a chances!" and dedicated for My Beloved Dad "I Love U So Much, Dad...".

No comments: