Why Does It Hurt Me So...?

Saya nda tau kemana hati ini melangkah. Saya sendiri heran, kenapa saya jadi mudah sedih dan menangis. Saya rapuh sekali. Saya lebih sensitif. Seorang kawan baik, menegur sikap saya. Kenapa saya sekarang kelihatan 'weak' dan sedikit sekali tersenyum? Saya tertawa dan berceloteh riang tapi mata saya tidak bisa membohonginya, didalam mata saya penuh dengan kejadian tragis yang tidak ingin saya alami. Kawan baik saya tau, 'didalam' diri saya sedang remuk. Ketika dia memeluk saya, serta merta saya menangis tanpa tau apa sebabnya. Saya menangis sejadi - jadinya tanpa bisa berkata apapun. Semakin erat dia mendekap saya, saya makin tidak karuan menumpahkan tangis saya. Hampir sama dahsyatnya ketika saya 'ditinggalkan' Bapak. Ketika kawan baik saya bertanya 'kenapa? ' , saya hanya terisak menatapnya dan tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut saya. Hanya air mata saya aja yang berbicara. karena terus menerus air mata itu berlarian dari sana. Kata kawan baik saya, seolah saya 'minta tolong' tapi dia nda tau apa yang harus di tolong. Ketika saya berpelukan dengan Allah di akhir malam, dada saya semakin sesak. mungkin karena terlalu banyak yang saya minta. Dan saya tidak pernah putus berhenti berdoa di setiap sujud terakhir saya ketika sholat "...Allahummaghfirlii zanbi qullahu diqqohu wajillahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa 'alaa niatahuu wasshirrohu, Allahuma ini 'audzubika minnal hammi walhazaan wa 'auzdzubika minnal azzi wal kassal wa 'audzubika minnal dzubni walbukhl, wa 'audzubika min gholabati dayni wa kahri rizaal...." Sepertinya memang ada sesuatu dalam diri saya yang belum juga selesai. Tapi saya harus menutupnya rapat - rapat agar hidup saya bisa terus berjalan normal. Saya harus kuat membawa 'luka' yang menganga dan terus 'basah'. Orang bilang luka seperti itu harus dibuka agar cepat kering, takut lama - lama membusuk. Saya mengerti, tapi perban sudah terlanjur saya balut. Saya tidak mampu membukanya. Kenapa? karena perban itu sudah terlalu rumit melilit dan tidak pernah berhenti melilit. Dan saya membiarkan orang lain melilit luka saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali memohon kepada Sang Penggenggam Jiwa untuk 'menguatkan' saya menahan rasa sakit pada luka ini. "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan - kesalahanmu)" (QS. Asy-Syuura : 30) Jika saat ini saya tidak bisa tertawa, bukan karena saya tidak ingin. Tapi karena saya memang sudah tidak bisa tertawa. Sebenarnya saya harap - harap cemas, takut jika kelak saya tidak bisa meng-copy paste 'senyum cantik' saya seperti dulu. Tiba - tiba saya ingin kembali ke umur 7 tahun saya lagi. Gembira memakai baju coklat kesayangan saya yang di belikan Bapak ketika saya berulang tahun, berputar centil didepan cermin setelah Ibu menguncir dua rambut tipis saya, tertawa lebar ketika sedang bercanda dan mencari ikan julung - julung di empang dekat rumah dengan kakak tercinta saya dan menangis terharu ketika Bapak mencium kening saya ketika Beliau akan berangkat melaksanakan Ibadah Hajji. Sebenarnya Allah sayang sama saya. Bahkan mungkin mencintai saya. Banyak hal yang seharusnya bisa membuat saya 'kuat' . Hanya saja saya terlalu terhanyut dalam keterpurukan saya. Saya terlalu cengeng menghadapi 'kepahitan' dalam hidup saya saat ini. Mungkin juga saya terlalu manja pada masalah saya. Lihatlah, betapa Allah dengan indahnya membalik keadaan saya. Skenario-NYA yang mengharu biru akhirnya membuat saya bertekuk lutut dan mengakui ke-Agungan-NYA. Subhanallah... Saya tidak perduli sekarang bagaimana orang menatap saya. Bisa jadi menatap 'penuh kasihan' atau bisa jadi menatap 'tanpa tanya' atau mungkin menatap 'datar'. Yang jelas... Saya memang terluka. Saya ingin ada orang 'terbaik' yang memeluk kerapuhan saya, mengeringkan luka menganga saya, membasuh air mata saya, mengangkat wajah kelu saya dan mengembalikan 'senyum cantik' saya. "Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni'matan hidup didunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang - orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal" (QS. Asy-Syuura : 36) office.19:00 wib.lonelyness