“Brengsek Kamu....!!!” (sedihnya jadi Ibu berkarir)

Home. 21.30 WIB

Melotot. Itu adalah respon pertama dari saya kepada buah hati saya, Nabil. Dari mana anak saya bisa menyadur kalimat kasar itu? Seinget saya nih, saya nda pernah berkata kasar didepannya. Barusan sambil menangis dia mengucapkan kalimat “brengsek kamu....!!” kepada eyangnya yang baru saja memarahinya. Rupanya anak saya ngambek karena dimarahi oleh Ibu saya setelah dia melempar – lempar mainannya dari atas tempat tidur ke lantai dengan semaunya. Anak saya makin ngambek karena saya ikutan melotot kepadanya dan tidak membelanya. Alhamdulillah, dia tau saya marah dan tidak suka dengan kalimat yang diucapkannya barusan dan segera berlari memeluk saya. Saya sengaja tidak membalas pelukannya untuk menunjukkan bahwa dia bersalah dan harus menyesal serta meminta maaf kepada Ibu saya. “maap mi..maap...!” serunya seraya menangis dan memeluk saya kencang. Nda tega...akhirnya saya balas pelukannya dan membisikan ke telinganya bahwa mami mencintainya dan ingin agar Nabil bisa bersikap yang baik dan harus minta maaf sama eyangnya karena sudah berkata kasar. Selidik punya selidik, ternyata kalimat itu dia dapatkan dari hasil menonton sinetron yang sering diputar oleh stasiun TV swasta. Di dalam sinetron itu sering ada adegan orang dengan ekspresi marah – marah dan melontarkan kalimat tersebut. Bisa jadi yang ditangkap oleh anak seusia anak saya adalah “ kalo lagi marah atau ngambek harus mengeluarkan kalimat itu, supaya orang lain tau kalo dia lagi marah atau ngambek “.
Hiks...! sedih banget ya ternyata jadi Ibu yang bekerja di kantor. Walaupun saya yakin Ibu saya akan selalu mengajarkan hal – hal baik selama saya titipkan anak saya kepadanya, tapi kan saya juga nda bisa melarang Ibu saya untuk tidak menonton sinetron kesukaannya. Saya juga nda mungkin mengingatkan Ibu saya untuk selalu memperhatikan apa yang anak saya tonton. Karena di rumah udah nda ada khodimah (PRT), praktis selama saya tinggal bekerja Ibu saya yang menangani semua ‘printil-printil’ keperluan rumah dan sekaligus beliau harus mengurusi anak saya (Ya Rabb...hamba mohon, balaslah dengan syurga seluruh kebaikan Ibu hamba).
As a single parent, saya pun bener – bener darurot untuk bekerja diluar. Semoga Allah menguatkan iman dan hati saya untuk bisa terus berjuang membesarkan belahan jiwa saya ini dan memberikan saya jalan keluar terbaik supaya saya tidak terus – terusan meninggalkannya dirumah. Dan yang terpenting, semoga saya tetap diberikan kekuatan iman untuk selalu istiqomah di jalan-NYA dan mendidik anak saya menjadi anak yang shalih. Amiin...Allahumma Amiin.

1 comment:

bunda elly said...

kagum binti salut ma mbak. hebat deh! jadi pengen banyak belajar.