Ternyata Benar Ya, Anak Itu Bagaikan Sebuah Kertas Kosong

Workplace, 7 Dzulhijjah 1428 H

Hmm...tiba – tiba saya jadi teringat ulah buah hati saya yang membuat saya terharu. Saat itu saya pulang kerja sudah sangat larut. Sekitar jam 22.30 WIB saya baru tiba di rumah. Capek banget, udah pasti. Yang namanya ‘lelah’ tuh kayaknya ngerontokin badan saya. Seperti biasa anak saya sudah siap menyambut saya dengan pelukan dan segunung rindunya kepada saya setelah seharian saya tinggal bekerja. Tapi kali ini karena sudah terlalu larut, jadilah jundi kecil saya itu sudah disiapkan eyangnya dengan baju tidurnya.
Setelah witir, bikin susu dan mematikan lampu kamar, saya langsung ambruk di tempat tidur tanpa perduli dengan ocehan buah hati saya. Cape banget, ngantuk banget, udah K.O pokoknya. Bahkan saya nda sempat melakukan hal rutin yang biasa saya lakukan terhadap buah hati saya jika mau tidur.
Tapi Subhanallah...saat sayup-sayup mau tidur, anak sayalah yang melakukan hal rutin itu terhadap saya. Dia mengelus – ngelus kening saya dengan jari mungilnya trus mulutnya komat – kamit (seperti biasa saya membaca ayat Kursyi dan surrah Al Ikhlas-Al Falaaq – An Naas ; maksudnya), trus bergantian mengecup kening saya – pipi – punggung tangan – dan punggung kaki.
Setelah itu dia membisikkan doa mau tidur di telinga saya dan meniupkannya ke muka saya. Subhanallah.....! hilang seketika lelah letih yang saya rasakan. Saya terharu, nda terasa keharuan itu membuat air mata menitik diujung mata saya.
Saya membuka mata saya dan memeluknya,lalu doa saya seketika "Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa zurriyyatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqinaa imamaa – Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa“ (QS. Al Furqaan : 74)
Ternyata benar ya, anak itu bagaikan sebuah kertas kosong yang isinya adalah coretan tangan kita sendiri. Mau bagaimana hasil tulisan kita di atas kertas itu adalah bagaimana kemampuan kita menuliskan diatasnya.
Jika kita tuliskan yang baik, maka hasilnya (Insya Allah) akan sesuai harapan dan permohonan kita kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Tapi jika kita nda mampu menulisnya dengan baik, maka kita sendiri pun akan kesulitan membacanya.

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan :)

1 comment:

sachroel said...

semoga menjadi anak soleh yg berbakti, amiiiiiin