Eid Mubarrak (Dzulhijjah)

AMALAN PADA BULAN DZULHIJJAH
  1. Meningkatkan ibadah pada 10 hari pertama dengan Qiyamul Lail.
  2. Bertakbir pada hari Arafah, Idul Adha dan Hari Tasyriq, disunnahkan pula untuk melakukan takbir pada hari - hari tersebut berdasarkan Firman Allah SWT : " Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya " (QS.Al Baqarah:203). Maksud dari dzikir disini adalah membaca Takbir, Tasbih, Tahmid dan Sebagainya. Beberapa hari yang terbilang ialah tiga hari setelah hari Raya Hajji atau biasa disebut hari Tasyriq.
  3. Sholat Idul Adha (menjalankan masing - masing berdasarkan Hadist Rasulullah SAW)
    • Tidak makan pagi/sarapan sebelum Idul Adha
    • Dianjurkan berangkat dengan berjalan kaki
    • Ada takbir 7 kali pada raka'at pertama dan 5 kali pada raka'at kedua
    • Ada Khotbah setelah sholat
    • Mandi dan menggunakan wewangian sebelum berangkat
    • Melewati jalan yang berbeda ketika pulang dari sholat dari jalan ketika mendatangi sholat
    • Wanita haid dianjurkan tetap meramaikan tanpa mengikuti sholatnya
    • Qurban pada tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, urgensinya : Sebagai ibadah sosial siantara sekian ibadah yang paling di cintai oleh Allah SWT, menduduki peringkat kedua setelah perintah sholat (Lihat QS.Al-Kausar), Sarana pembinaan hubungan sosial, memperlancar roda ekonomi, menghilangkan sifat Hubbuddunya (Cinta Dunia)
EID MUBARRAK....!!!
Selengkapnya.....

Well......(Sekali Lagi Saya Sedang Menghirup Udara Cinta)

Ini kilas cerita seseorang pada saat segalanya kelihatan tidak mungkin :

Suddenly, my life become brightfull, wonderfull and colourfull...

Dan saya Memuji Allah atas indahnya rasa ini !

Subhanallah...

Well, surprisenya lumayan bikin shock juga sih. Tapi indah.

Luar biasa indah...

Sekali lagi saya sedang menghirup udara cinta...

Semoga yang terakhir.

Dan Allah Ridha. Amiin.

(to be continued)

Selengkapnya.....

Yaa Nabi Salaam’alayka..

26 Dzulqaidah 1428H. Mendung. Sedih Shalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
Jam 3 dini hari, saya terbangun karena suara sms dari HP saya. Ternyata sebuah pesan dari atasan saya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di Tanah Suci. Begini petikan sms nya : “ Kami baru selesai 30 waktu shalat di Nabawi. Jumat setelah Isya akan berangkat ke Mekkah. Titipan doa sudah dipanjatkan di Raudhah kecuali salam untuk Nabi yang tidak boleh menurut tuntunan
Deg!!! Hati saya seperti jatuh ke dasar bumi, saya sedih. Saya menangis sedih karena merasa tertolak. Saya tidak menyangka salam saya tidak bisa terucap disana, bagaimana mungkin????? Apa salah saya ? apa benar tidak sesuai tuntunan ? tuntunan yang mana ? Pikiran saya nda karuan, hampir su’udzhann terhadap ini semua. Cukup lama saya menangis pagi itu, sekitar satu jam hingga saya tertidur lagi. Dan ketika terbangun...saya cuma bisa menangis lagi. Segitunya amat Koen ?
Hmm, biar saya ceritakan bagaimana indah dan ni’matnya berada di Rumah Rasulullah SAW (Raudhah) – Masjid Nabawi – Madina. Kami para muslimah tidak bisa sembarangan ada di Raudhah setiap waktu, karena kami harus menerobos shaf lelaki untuk menuju kesana. Makanya untuk para muslimah yang mau ke Raudhah, diberikan jam khusus dan sangat terbatas tempatnya. Kami juga harus berdesak – desak untuk bisa ada disana. Walhasil, kalo udah sampe hijab paling depan kami sangat senang. Betapa tidak ? hijab paling depan itu hampir sedikit lagi dekat dengan makam Rasulullah SAW.
Sebenarnya jangankan sampe ke depan, baru pada pembatas paling belakang saja, rasanya sudah “degub-degub” kencang. Hati ini rasanya tidak karuan bagaikan akan bertemu kekasih tambatan hati yang sudah lama tidak bertemu. Pakaian terbaik saat itu saya kenakan, saya berandai – andai akan terlihat manis didepan kekasih.
Gemuruh Shalawat berkumandang dari bibir – bibir ummat yang berharap ‘sapaan’ Rasulullah SAW, tiada henti dan tiada putusnya. Iris deh telinga saya kalo ada orang yang tidak mengucurkan air mata. Semuanya tiba – tiba seperti terkena magnit haru yang begitu dalam dan terbawa magnit rindu akan orang termulia di muka bumi ini. Semua bershalawat dan memanjatkan doa.
Saya sendiri sempat berada di barisan paling depan, dan sholat sunnah disana. Ah bahagianya! Rasanya ingin berlama – lama disana jika saja tidak terbentur oleh waktu dan kesempatan. Saya bayangkan ya, ini aja kita yang sudah ribuan tahun berselang sejak Zaman Rasulullah SAW, bagaimana jika kala itu kita berada di Zamannya ya ? bisa menatap keindahan wajahnya, meni’mati keagungan akhlaknya, suaranya, merasakan kelembutannya, keshalihannya dan kepemimpinannya.
Subhanallah....Subhanallah....
Mungkin ada pencerahan bagi saya dari rekan – rekan yang membaca blog saya ini tentang tuntunan salam bagi Rasulullah SAW ? Semoga mendapatkan manfaat dari hal ini. Insha Allah...
Allahumma Sholli alaa sayyidina Muhammad wa alaa alii Muhammad kamma sholayta alaa sayyidinna Ibrahim wa alaa alii Ibrohim...
Selengkapnya.....

Inget Mati Neng...!

Office. 17:18 WIB. Ribeuddd !!
Semoga Allah mengampuni kelalaian dan kekhilafan saya disetiap saat. Saya cuma sanggup tersenyum kecut dan segera menghambur keluar ruangan untuk berwudhu. Jam menunjukkan pukul 17.05 WIB, ketika seorang teman diruangan saya mendekati sambil berkata cukup keras,” tuh baca di monitornya, sapa yang nempel ? UMUR SUDAH 32,SUDAH MASUK ANTRIAN KEMATIAN, SHOLAT HARUS TEPAT WAKTU! ”. Aku tertegun dan beristighfar.
Aneh ya, godaan duniawi begitu dahsyatnya sampe saya lebih suka terlena dan berkutat dengan pekerjaan saya. Padahal reminder adzan selalu otomatis di komputer saya setiap kali waktu shalat tiba. Tapi seringkali saya abaikan. Setelah selesai shalat, pikiran saya berkecamuk nda karuan. Saya terdiam menatap monitor saya dan setumpuk pekerjaan saya di meja kerja. Emang apa yang saya cari? Padahal kalo Allah tidak meridhoinya, saya bisa apa? Lalu kalo Allah memutus rizki-Nya, saya minta kemana lagi? Minta ke atasan saya? Ke owner perusahaan? Lha wong yang kasih mereka rizki juga tetap Allah.
Mana bisa ya pekerjaan lebih penting dari Allah? Saya bayangkan sendiri, kalo atasan memanggil saya, saya pasti langsung menjawab dan menghampirinya serta siap dengan paper dan pena saya, saya selalu siap menerima tugasnya (nda mau mengecewakan). Lalu Allah? Bukankah sudah jelas Allah adalah Tuhan Semesta Alam, Penguasa Jagad Raya, adakah alasan untuk mengabaikan-Nya walaupun sedetik?
Dan apabila hamba – hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ” (QS.Al-Baqarah : 186)
Kemudian teman saya tadi menyentak lamunan saya dengan kata – kata pahitnya, “makanyaa....inget mati neng!”. Hiks...!!!!
Selengkapnya.....