Yaa Nabi Salaam’alayka..

26 Dzulqaidah 1428H. Mendung. Sedih Shalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
Jam 3 dini hari, saya terbangun karena suara sms dari HP saya. Ternyata sebuah pesan dari atasan saya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di Tanah Suci. Begini petikan sms nya : “ Kami baru selesai 30 waktu shalat di Nabawi. Jumat setelah Isya akan berangkat ke Mekkah. Titipan doa sudah dipanjatkan di Raudhah kecuali salam untuk Nabi yang tidak boleh menurut tuntunan
Deg!!! Hati saya seperti jatuh ke dasar bumi, saya sedih. Saya menangis sedih karena merasa tertolak. Saya tidak menyangka salam saya tidak bisa terucap disana, bagaimana mungkin????? Apa salah saya ? apa benar tidak sesuai tuntunan ? tuntunan yang mana ? Pikiran saya nda karuan, hampir su’udzhann terhadap ini semua. Cukup lama saya menangis pagi itu, sekitar satu jam hingga saya tertidur lagi. Dan ketika terbangun...saya cuma bisa menangis lagi. Segitunya amat Koen ?
Hmm, biar saya ceritakan bagaimana indah dan ni’matnya berada di Rumah Rasulullah SAW (Raudhah) – Masjid Nabawi – Madina. Kami para muslimah tidak bisa sembarangan ada di Raudhah setiap waktu, karena kami harus menerobos shaf lelaki untuk menuju kesana. Makanya untuk para muslimah yang mau ke Raudhah, diberikan jam khusus dan sangat terbatas tempatnya. Kami juga harus berdesak – desak untuk bisa ada disana. Walhasil, kalo udah sampe hijab paling depan kami sangat senang. Betapa tidak ? hijab paling depan itu hampir sedikit lagi dekat dengan makam Rasulullah SAW.
Sebenarnya jangankan sampe ke depan, baru pada pembatas paling belakang saja, rasanya sudah “degub-degub” kencang. Hati ini rasanya tidak karuan bagaikan akan bertemu kekasih tambatan hati yang sudah lama tidak bertemu. Pakaian terbaik saat itu saya kenakan, saya berandai – andai akan terlihat manis didepan kekasih.
Gemuruh Shalawat berkumandang dari bibir – bibir ummat yang berharap ‘sapaan’ Rasulullah SAW, tiada henti dan tiada putusnya. Iris deh telinga saya kalo ada orang yang tidak mengucurkan air mata. Semuanya tiba – tiba seperti terkena magnit haru yang begitu dalam dan terbawa magnit rindu akan orang termulia di muka bumi ini. Semua bershalawat dan memanjatkan doa.
Saya sendiri sempat berada di barisan paling depan, dan sholat sunnah disana. Ah bahagianya! Rasanya ingin berlama – lama disana jika saja tidak terbentur oleh waktu dan kesempatan. Saya bayangkan ya, ini aja kita yang sudah ribuan tahun berselang sejak Zaman Rasulullah SAW, bagaimana jika kala itu kita berada di Zamannya ya ? bisa menatap keindahan wajahnya, meni’mati keagungan akhlaknya, suaranya, merasakan kelembutannya, keshalihannya dan kepemimpinannya.
Subhanallah....Subhanallah....
Mungkin ada pencerahan bagi saya dari rekan – rekan yang membaca blog saya ini tentang tuntunan salam bagi Rasulullah SAW ? Semoga mendapatkan manfaat dari hal ini. Insha Allah...
Allahumma Sholli alaa sayyidina Muhammad wa alaa alii Muhammad kamma sholayta alaa sayyidinna Ibrahim wa alaa alii Ibrohim...

3 comments:

inda_ardani said...

wah, kok saya baru tahu ya kalo ada salam bagi baginda Rasul yang sia-sia begitu, bisakah dimintakan konfirmasi ke atasan mbak yang mengirim info tersebut? jadi penasaran juga niiih.

wah, tentang haji ini, jadi ingat ortu yang lagi ke sana

hidupnikmatmatimasuksurga said...

tahu tidak mengapa umat islam selalu "tertinggal" dengan umat lain ? KEBANYAKAN ATURAN !!! KEBANYAKAN MERASA PALING BENAR !!!
Agama itu MUDAH !! tetapi bukan untuk DIPERMUDAH DAN DIPERSULIT !! yang beginian tergantung niat sajalah...

Nurulhaq said...

Keutamaan Nabi Muhammad SAW di alam Barzakh.

Tak diragukan Nabi Muhammad SAW adalah Insan Paling Mulia sepanjang zaman. Kehidupannya adalah berkah dan rahmat bagi alam semesta. Namun sebenarnya sesudah Beliau wafat keutamaannya tidaklah berkurang. Berikut di antaranya:

1. Jasad Muhammad SAW tidak rusak

Ada banyak hadis mengenai ini, namun cukuplah dikuti satu saja:
"Sungguh Allah mengharamkan bumi dari memakan jasad para Nabi" (Diriwayatkan oleh Abi Daud, Ibn Majah, Ibn Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad sahih).

Demikian keutamaan para Nabi AS/SAW, hingga jasadnya meski sudah dikubur, namun tidak hancur dimakan tanah, meski tidak di'mumi'....

"Adalah wajib diketahui bahwa Jasad nabi SAW di bumi, lembut dan lembab (seperti dalam hidup) dan ketika sahabat menanyakan, "Bagaimana dengan salam kami padamu sesudah engkau menjadi debu?", Rasul menjawab,"Allah menjaga bumi dari memakan jasad para Nabi", dan bahwa jika jasadnya tidak di makam Beliau tidak akan menjawab seperti ini. (Ibn Qayim, Al-Ruh).

2. Arwah Nabi Muhammad SAW masihlah hidup di alam Barzakh

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 169).

Sebagian orang, karena kurang pemahaman, hanya memahami bahwa para Syuhada itu hidup dalam arti namanya tetap hidup sepanjang masa. Tentu penafsiran ini kurang tepat. Pertama, karena kalau cuma sekedar namanya dikenang orang kafir juga banyak yg namanya hidup. Kedua, tidak semua syuhada terkenal.

Pemahaman yg benar berdasarkan berbagai hadis, memang mereka memang:
1. hidup, tentu di alam barzakh, alam yg lebih tinggi dari alam dunia.
2. di sisi Tuhan, maksudnya dekat dengan kemuliaan Allah.
3. mendapat rezeki.

Dari ayat ini juga bisa diambil kesimpulan, arwah para Nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW yang kedudukan dan kemuliaannya jelas di atas para syuhada, mereka juga hidup, di sisi Tuhan dan mendapat rizki dari Allah.

Kesimpulan ini diperkuat dengan hadis-hadis tentang Isra-Miraj bahkan diantaranya Hadis Bukhari Muslim, di mana Rasul SAW bertemu dengan arwah para Nabi AS di Masjidil Aqsa dan tangga2 langit. Dari langit 1 sampai langit 7. Kalau para Nabi lainnya mendapat kemuliaan seperti itu, tentu Rasul SAW juga lebih dari itu.


3. Arwah Nabi Muhammad SAW masih beribadah.

Di antara kisah perjalanan Nabi SAW ketika Isra Miraj, adalah beliau mengunjungi (berziarah) ke makam dan tempat2 suci para Nabi AS. (Kebiasaan ini dilanjutkan oleh para ulama salaf dengan kebiasaan berziarah ke makam2 ulama terdahulu. Sebagian orang yg kurang faham, menganggap kebiasaan ini bid'ah bahkan mengagungkan kuburan... Tentu anggapan yg didasari ketidaktahuan...)

Nah, di antaranya adalah sebagaimana Sabda Rasulullah saw : "aku melewati Musa (as) dimalam aku di Isra kan di Katsibil Ahmar dan Musa berdiri di kuburnya dan ia shalat" (Shahih Muslim Bab Fadhail). Bahkan di Masjidil Aqsa ketika Isra Rasul SAW memimpin shalat seluruh arwah para Nabi AS, yang tentu berjumlah ribuan (berdasarkan sebuah hadis). Dalam hadis lain, para Nabi AS berdoa, tawaf dan mengucapkan talbiyah. Namun riwayat Sahih Muslim cukup menjadi dasar bahwa Para Nabi AS masih beribadah di alam kuburnya, tentunya termasuk Nabi Muhammad SAW.

Kita jangan menganggap ibadahnya para Nabi SAW sebagai bentuk beban, sebagaimana anggapan kita terhadap ibadah. Ibadah bagi para Nabi AS/SAW adalah merupakan puncak kenikmatan beraktivitas, karena tidak ada yg lebih indah daripada mendekat dan memuji nama Allah SWT. Di samping itu, dalam ibadah mereka tentunya termasuk mendoakan umatnya.

Kembali kepada kisah Isra-Miraj, ketika Rasul SAW bertemu dengan para Nabi AS di pintu2 langit, para Nabi AS mengucapkan salam kepada Rasul SAW dan umatnya serta mendoakan umatnya. Bahkan, Nabi Musa AS sangat 'concern' terhadap umat Muhammad SAW sehingga ketika diperintahkan shalat wajib, mula2 50 kali sehari semalam, Nabi Musa AS-lah yang menganjurkan Nabi SAW untuk minta 'diskon' kepada Allah mengingat umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yg secara fisik lemah. Kita tahu terjadi drama bolak-balik hingga akhirnya menjadi 5 waktu saja.

Sebagian orang menganggap kisah ini 'aneh' dan tidak masuk akal, masa perintah Allah SWT kok diminta korting seperti itu...? Namun, bagi kita kaum beriman hal ini bukanlah hal aneh. Selain karena hadisnya sangat kuat (mutafaq alaih), juga sebenarnya mengandung hikmah yg banyak. Di antaranya:
1. Bahwa Allah sangat kasih kepada umatnya
2. Tingginya kedudukan Nabi SAW
3. Tingginya nilai ibadah shalat yg 5 waktu, namun setara dengan 50 waktu.
4. (Ini yg terkait pembahasan kita). Para Nabi (dalam hal ini Musa AS), meski di alam barzakh tetaplah memikirkan nasib kaum beriman. Bahkan mereka memberi manfaat kepada kaum yang hidup. Bukankah, kita shalat menjadi lima waktu, di antaranya adalah karena wasilah (perantara, media) Nabi Musa AS?

Dari kisah ini jelas bahwa mereka yang berpendapat orang yang sudah mati tidak berpengaruh, bermanfaat kepada yang hidup tidaklah benar. Paling tidak hal ini ditunjukkan oleh arwah Para Nabi AS....

Karenanya berikut kutipan beberapa ulama mengenai Arwah Nabi SAW di alam barzakh:

"Telah terbukti dari dalil dan nash yg telah dinyatakan sahih dalam tingkatan yg tinggi bahwa Rasul SAW masih hidup... bahwa dia puasa dan haji setiap tahun dan bahwa dia mensucikan dirinya dengan air yang turun padanya" (Al-haytami, Al-Jauhar al-Munazam)

"Perbuatan (Nabi SAW) di alam berikutnya adalah zikir dan doa" (An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim)

4. Beliau masih menjawab salawat dan salam dari umatnya.

Jangan kita mengira kalau kita bersalawat/ salam kepada Nabi tidak dijawab oleh Beliau SAW. Justru akan diketahui dan dibalas oleh beliau. Hadis mengenai itu ada dua macam.

Pertama, disampaikan oleh malaikat, berikut misalnya:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memiliki Malaikat-Malaikat yang terbang ke berbagai tempat di bumi menyampaikan kepadaku salam dari umatku.( HR imam ahmad, hadis ini sahih)

Kedua Allah menyampaikan kepada arwah beliau sendiri. Berikut:
"Tidak ada yg menyampaikan salam dari umatku, kecuali Allah akan mengembalikan ruhku dan menjawab salamnya " (HR Abu Daud, hadis sahih).

Apalagi kalau kita mengunjungi maqam Nabi SAW, di mana jasad beliau masih utuh terkubur di situ, jika kita mengucapkan salam tentu akan dijawab beliau. Bahkan Nabi Isa AS nanti akan mengucapkan salam di makam Nabi SAW.

"Sungguh Ibn Maryan akan turun dan melalui madinah dalam perjalanan pergi haji dan jika dia mengcapkan salam kepadaku, pasti aku akan menjawabnya" (HR Al-Hakim, beliau mengatakan sahih)

Karenanya marilah jangan ragu2 kita mengucapkan salam dan shalawat kepada beliau....

5. Nabi SAW bisa menemui umatnya melalui mimpi bahkan ketika sadar.

Ini adalah keistimewaan lain dari Rasul SAW bahwa umat Islam masih bisa dikunjungi Beliau baik dalam keadaan mimpi maupun sadar, berikut dasarnya:

Barangsiapa yang pernah melihat aku dalam mimpinya, berarti dia benar-benar melihatku. Sesungguhnya syaitan tidak bisa menjelma dengan rupaku “. (Jami’u As-Soghir Imam Suyuthi, Musnad Imam Ahmad, Sahih Al-Bukhari, Sunan At-Tirmidzie, hadis ini sahih)


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “ Barangsiapa yang pernah melihat aku dalam mimpinya, berarti dia akan dapat melihatku di dalam keadaan sadar. Sesungguhnya tidak bisa syaitan menjelma dengan rupaku “. ( Jami’u As-Soghir Imam Suyuthi, Sahih Al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, hadis sahih )
Tentu tidak semua orang bisa dikunjungi Nabi SAW, hanya orang-orang tertentu, kebanyakan adalah para shalihin. Alangkah bahagianya mereka bisa menemui Rasul SAW meski beliau sudah wafat.

Berikut misalnya Atsar tentang bertemunya sahabat dengan Nabi SAW dalam mimpi:
Orang-orang pernah ditimpa kemarau pada masa pemerintahan ‘Umar. Lalu datang seorang laki-laki ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, karena mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi dalam tidurnya bertemu Nabi SAW dan dikatakan kepadanya : “Datanglah ke ‘Umar sampaikan salamku kepadanya, kemudian katakan kepada mereka bahwa mereka akan diturunkan hujan. Katakan kepadanya: Yang cerdas”. Kemudian orang tersebut datang kepada Umar menceritakan hal tersebut. Umar menangis dan berkata," Ya Tuhanku, aku sudah tidak memiliki daya kecuali apa yang ada pada kekuasaanku"

Orang tersebut adalah Bilal bin Haris (ra) seorang sahabat Nabi SAW, menurut Al-Hafidz Ibn Hajar.
Atsar ini diriwayatkan oleh banyak sekali muhadis, diantaranya Ibn katsir, Ibn Syaiba, Ibn Hajar, Al-Halili, Ibn Abdul Bar, juga Bukhari dalam Tarikh... mereka mengatakan "sanadnya sahih"

Mungkin kita bertanya2:
- Bagaimana mungkin kita bertemu Nabi SAW padahal kita belum pernah bertemu?
- Bagaimana kita yakin itu adalah Nabi SAW?
- Bisa2 itu bukan Nabi SAW tetapi orang lain?

Jawabannya sederhana. kalau Rasul SAW mengatakan bisa dan memang setan tidak bisa menyerupai beliau, tentu artinya setan/orang lain tidak bisa mengaku sebagai Nabi SAW di alam mimpi untuk mengelabui orang.

Allahumma shalli 'ala Sayidina wa Habibina wa Syafi'ina wa Maulana Muhammadin wa ala Aalihi wa salim...

Semoga Allah menjadikan kita golongan pecinta Rasulullah SAW... dan mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW di Yaumul Akhir... Amien...